BANDUNG, OMNI PUBLIKA – Fenomena viralnya sosok yang dikenal sebagai Ustazah Hajar (melalui akun TikTok seperti @nia.hajar_s) telah menjadi perbincangan hangat di media sosial. Kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat menghadirkan kecepatan informasi dan dapat dilakukan secara masif.
Selalu ada dua sisi, positif dan negatif. Sisi positif jika informasi yang disajikan akurat dan dapat di pertanggung-jawab kan isinya, di sisi negatifnya apabila konten informasi tersebut adalah berita yang tidak benar, manipulatif bahkan cenderung kepada berita palsu (hoaks).
Di semua bidang ilmu dan pengetahuan, penggunaan teknologi informasi adalah suatu keniscayaan, bahkan di bidang yang lebih spesifik : keagamaan.
Medio bulan juni 2026 muncul sesosok pendakwah dengan platform digital fenomenal dengan jumlah pengikut yang cukup fantastis, menembus angka hingga 1 juta pengikut (followers).
Berikut adalah beberapa fakta terkait fenomena tersebut:
- Sosok Buatan Kecerdasan Buatan (AI)
Meskipun terlihat seperti manusia asli, sosok perempuan berhijab yang berakting di depan mikrofon layaknya seorang pendakwah ini sepenuhnya merupakan rekayasa teknologi Artificial Intelligence (AI). Visual wajah, gerak bibir, hingga suara yang dihasilkan dibentuk menggunakan program generator AI. - Memiliki Pengikut yang Sangat Besar
Sebelum identitas digitalnya terbongkar luas, akun ini berhasil menarik perhatian masif dari netizen. Akun tersebut terpantau sukses meraup lebih dari 920.000 hingga 1 juta pengikut (followers)dan mengumpulkan belasan juta tanda suka (likes) di TikTok. Banyak pengguna yang awalnya tidak menyadari bahwa ia bukan manusia asli. - Ciri-Ciri Fisik dan Intonasi yang Terlalu Sempurna
Para pakar digital dan netizen jeli berhasil mengidentifikasi bahwa sosok ini adalah AI dari beberapa aspek:
Gerakan dan Ekspresi : Visualnya terlihat sangat statis atau memiliki pola gerakan yang berulang secara tidak alami.
Intonasi Suara : Suara dan temponya terdengar sangat teratur dan rapi tanpa adanya jeda alami manusia (seperti berpikir, mengambil napas, atau salah ucap) - Memicu Debat dan Keresahan Terkait Akuntabilitas
Viralnya ustazah AI ini menimbulkan diskusi serius di kalangan netizen dan pengamat digital mengenai dampak penyebaran konten agama digital;
Masalah Pertanggungjawaban; Kekhawatiran terbesar muncul jika terdapat kekeliruan tafsir, penyampaian hadis palsu, atau kesalahan fatal dalam konten ceramahnya, sebab tidak ada sosok manusia nyata yang bisa dimintai pertanggungjawaban secara hukum maupun moral .
Di sini timbul tuntutan transparasi para Kreator agar konten berbasis AI memberikan label atau disclamer yang jelas agar tidak mengecoh audiens yang belum melek teknologi.
Terlepas dari perdebatan di atas, AI memiliki potensi besar untuk membantu dakwah. AI mampu menyampaikan pesan-pesan dasar Islam secara cepat, menarik, dan menjangkau generasi muda yang selama ini sulit disentuh oleh metode dakwah konvensional. AI juga dapat membantu produksi konten, penerjemahan, penyederhanaan materi, hingga menjawab pertanyaan-pertanyaan umum yang bersifat informatif. Namun, ketika AI tidak lagi sekadar menjadi alat bantu, melainkan tampil sebagai otoritas agama, persoalannya menjadi jauh lebih serius.
Dalam tradisi Islam, ilmu agama tidak hanya diukur dari benar atau salahnya isi, tetapi juga dari otoritas penyampainya. Ada konsep sanad, yaitu rantai transmisi ilmu yang menghubungkan seorang murid dengan gurunya hingga kepada Rasulullah SAW. Sanad bukan sekadar daftar nama, tetapi mekanisme verifikasi keilmuan, akhlak, dan tanggung jawab ilmiah.
Dalam Islam, teknologi adalah wasilah (sarana), sedangkan ilmu, amanah, dan tanggung jawab tetap berada di tangan manusia. Sebab yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah bukanlah algoritma, melainkan manusia yang menciptakan, menggunakan, dan menyebarkannya.
Karena itu, masa depan dakwah bukanlah memilih antara ulama atau AI, melainkan memastikan bahwa AI selalu berada di bawah bimbingan ulama, bukan sebaliknya.
Wallahu a’lam bishawab














