MAGELANG, OMNI PUBLIKA – Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) dari Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Tidar (BEM FE UNTIDAR) secara resmi meluncurkan program pemberdayaan masyarakat di Desa Tirto, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah pada Jumat (26/07/2026).
Mengusung konsep inovatif bertajuk “Smart Circular Forestry Economy: Transformasi Ekonomi Produktif Berbasis Agroforestri Unggulan Desa Tirto Menuju Desa Hutan yang Berkelanjutan dan Mandiri,” para mahasiswa menginisiasi program yang dikenal sebagai “Sekolah Hutan”.
Acara sosialisasi dan pembukaan yang berlangsung di Balai Desa Tirto ini dihadiri oleh perwakilan universitas Drs. Giri Atmoko, M.Si, dosen pembimbing Axel Giovanni, S.E., M.M., jajaran pimpinan Fakultas Ekonomi, perangkat desa, pengurus Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), serta warga setempat.
Selain itu, tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) dari pengurus BEM FE, bersama puluhan mahasiswa sukarelawan dari Fakultas Ekonomi, turut mengunjungi lokasi untuk memberikan dukungan penuh terhadap program tersebut.

Hadir pada acara tersebut Perwakilan Pemerintah Desa Tirto, Bapak Kabul yang menyambut hangat kehadiran para mahasiswa. Sebagai bentuk komitmen dan dukungan penuhnya beliau meresmikan terbentuknya “Sekolah Hutan” di Desa Tirto Kecamatan Grabag. Ia menyampaikan bahwa edukasi mengenai pengolahan komoditas lokal dan strategi promosi digital merupakan hal yang sangat dinantikan oleh warga.
“Kami sangat senang dengan kegiatan mahasiswa dalam program PPK ini. Edukasi mengenai pengelolaan potensi kopi dan aren, serta promosi digital, adalah hal yang selama ini dirasa perlu dan dinantikan oleh masyarakat kami,” ujar Bapak Kabul dalam sambutannya.
Dimas Alfareza, Ketua Tim Pelaksana PPK Ormawa BEM FE UNTIDAR, menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi atas keterbukaan serta partisipasi aktif yang ditunjukkan oleh warga sejak hari pertama.
Dalam sambutannya, Dimas menyampaikan pesan yang menyentuh, seraya berharap bahwa kehadiran para mahasiswa selama enam bulan ke depan dapat memungkinkan mereka untuk berbaur dan menjadi bagian dari keluarga besar masyarakat setempat. “Kami sangat berharap seluruh warga Desa Tirto dapat menerima dan memperlakukan kami layaknya anak atau adik sendiri, serta membimbing kami selama kami berkarya bersama di desa ini,” ujar Dimas.

Apresiasi juga disampaikan oleh perwakilan universitas. Mewakili institusi tersebut, Bapak Giri Atmoko dan Bapak Axel Giovanni mengungkapkan rasa bangga atas sambutan hangat yang diberikan oleh masyarakat Desa Tirto kepada tim mahasiswa.
Bapak Axel menekankan bahwa program ini menjadi wadah berharga bagi mahasiswa untuk belajar secara langsung dari kearifan lokal, sementara Bapak Giri berharap hasil dari program ini dapat mendorong kemandirian ekonomi desa dalam jangka panjang.
Sinergi yang nyata segera terlihat selama sesi diskusi. Ibu Ana, yang mewakili Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tirto, menjelaskan bahwa program Sekolah Hutan sangat selaras dengan visi operasional BUMDes, khususnya terkait penguatan administrasi, *branding* produk lokal, dan pengembangan pariwisata.
Pihak desa juga menyoroti peluang kolaborasi yang lebih luas, mulai dari optimalisasi kelompok tani, pengelolaan limbah ternak, dan pengoperasian bank sampah, hingga pemberdayaan UMKM yang berada di lereng Gunung Andong.
Acara interaktif tersebut ditutup dengan sesi foto bersama. Sepanjang program berlangsung, para mahasiswa dan sukarelawan didorong untuk senantiasa menjaga tata krama dan menghormati adat istiadat setempat, demi mewujudkan Desa Tirto yang mandiri, sejahtera, dan berkelanjutan.














