BATANG, OMNI PUBLIKA – Suasana magis menyelimuti Panggung Terbuka Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) pada Minggu (20/10/2026). Ratusan pasang mata penonton dibuat takjub dan terpukau oleh pertunjukan spektakuler Tari Jagat Manggala persembahan Sanggar Jagadhita. Tarian ini menjadi pembuka sekaligus bagian integral dari pementasan Sendratari Wanara Alas Roban, sebuah karya seni pertunjukan yang berhasil mengangkat kembali kekayaan legenda lokal masyarakat Batang ke atas panggung megah.
Kombinasi antara tata panggung yang menawan, musik pengiring yang kolosal, serta gerak tari yang penuh penghayatan membawa para pengunjung melintasi lorong waktu menyaksikan kisah perjuangan, keberanian, dan perjalanan cinta sejati dari sosok legendaris Ki Ageng Gringsing.
Perjuangan dan Takdir Cinta Ki Ageng Gringsing dan Nyi Rantansari
Sendratari Wanara Alas Roban tidak hanya menyajikan keindahan visual, tetapi juga membawa pesan moral yang mendalam melalui narasi sejarah lokal. Cerita berfokus pada dinamika hubungan antara Ki Ageng Gringsing dan Nyi Rantansari, seorang putri berparas anggun yang merupakan anak dari tokoh ulama sakti mandraguna di kawasan tersebut.
Ketika Ki Ageng Gringsing menyampaikan niat tulusnya untuk mempersunting Nyi Rantansari, sang putri tidak lantas membalasnya dengan begitu saja. Nyi Rantansari mengajukan syarat yang berat yaitu Ki Ageng Gringsing harus mampu membuktikan keunggulannya dan mengalahkan kesaktian sang putri terlebih dahulu.

Syarat tersebut menyulut pertarungan sengit di antara keduanya. Pertunjukan mencapai puncak ketegangannya saat Nyi Rantansari menggunakan ajian tertingginya mengerahkan pasukan khodam ular untuk memojokkan lawan. Di tengah gempuran mistis tersebut, kaki Ki Ageng Gringsing sempat terluka parah. Namun, dengan keteguhan hati serta bantuan dari pasukan simo (harimau) miliknya, Ki Ageng Gringsing berhasil bertahan dan membalikkan keadaan hingga menundukkan Nyi Rantansari.
Kekalahan tersebut menjadi titik balik. Dengan penuh rasa hormat dan keikhlasan, Nyi Rantansari akhirnya bersedia menjadi pendamping hidup Ki Ageng Gringsing. Sejak saat itu, pasangan ini bahu-membahu membangun kawasan Alas Roban, Gringsing, serta memimpin masyarakat menuju kehidupan yang lebih sejahtera.
Tari Waparta Simbol Keharmonisan dan Kedamaian Masyarakat
Sebagai penutup pertunjukan yang megah, para penari dari Sanggar Jagadhita menyajikan Tari Waparta. Tarian ini dirancang khusus untuk menggambarkan realitas kehidupan masyarakat Alas Roban yang hidup guyub, rukun, dan damai setelah melewati masa-masa perjuangan.
Dengan gerakan yang dinamis, harmonis, dan dipenuhi gelora semangat, Tari Waparta berhasil menghipnotis seluruh penonton yang hadir. Alunan musik yang kian cepat berpadu dengan ketepatan gerak para penari menjadi penutup yang manis sekaligus membekas di hati para pengunjung.
Merawat Tradisi di Tengah Arus Modernisasi
Keberhasilan pementasan Tari Jagat Manggala dan rangkaian Sendratari Wanara Alas Roban ini memancarkan pesan yang sangat relevan. Di balik megahnya arsitektur dan modernisasi KITB sebagai pusat industri baru, nilai-nilai budaya dan kearifan lokal Batang terbukti tidak padam.
Inisiatif Sanggar Jagadhita dalam menghidupkan kembali cerita rakyat ini menunjukkan bahwa tradisi lokal mampu berdiri sejajar dengan kemajuan zaman, bahkan menjadi magnet seni pertunjukan yang memikat masyarakat luas.


