banner 728x250

Banyak Beramal tapi Paling Jauh dari Allah, Sebuah Paradoks yang Perlu dipahami dan Al-Qur’an Menjawabnya

Ilustrasi

BANDUNG – OMNIPUBLIKA , Ada orang yang sholatnya tidak pernah bolong, amalannya panjang, Hafalannya banyak, tapi di balik semua itu ada hati yang keras, lisan yang mudah menghakimi dan mata yang memandang rendah orang lain yang amalannya tidak sepanjang miliknya.

Dan Al-Qur’an menyebut kondisi ini bukan sebagai keanehan, tapi sebagai bahaya yang paling dekat dengan orang yang paling banyak beramal. Al-Qur’an menyebut dengan kalimat yang seharusnya membuat kita berhenti “orang-orang yang paling rugi, yaitu yang sia-sia usahanya, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya”.

Ini bukan tentang orang yang malas beribadah, ini tentang orang yang sangat rajin, tapi kehilangan satu hal yang membuat semuanya sia-sia.

Rasulullah SAW bersabda ” Akan datang seseorang dari penduduk syurga.” Seseorang masuk, biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Kejdian itu berulang tiga hari berturut-turut.

Seorang sahabat bernama Abdullah bin Amr penasaran, Ia menginap di rumah orang itu, mengamati amalannya. Hasilnyapun mengejutkan. Sholatnya biasa, puasanya tidak luar biasa. Tidak ada amalan khusus yang membedakannya.

Sampai akhirnya orang itu menjawab dengan sederhana; “Aku tidak menyimpan dalam hatiku rasa dengki kepada siapapun.”. Bukan amalan yang mengantarkannya ke Syurga. Tapi kondisi hatinya.

Al-Qur’an tidak memisahkan amal dan hati; “Celakalah orang-orang yang sholat, yaitu yang lalai terhadap sholatnya, yang berbuat riya.” (QS. Al-Maun : 4-6).

Bukan orang yang tidak sholat. Orang yang sholat, tapi hatinya tidak ikut. Karena amal tanpa hati bukan amal yang hidup, ia hanyalah pertunjukan. Yang memukau orang di sekitarmu tapi tidak bergerak satu langkahpun menuju Allah.

Dan yang paling menakutkan, orang yang amalannya paling banyak adalah orang yang paling mudah terjebak di sana. Karena ia sudah terbiasa melakukan sampai tidak lagi merasakan apa yang sedang ia lakukan.

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِٱلْأَخْسَرِينَ أَعْمَٰلً
“Katakanlah (Muhammad) : “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” (QS. Al-Kahfi :103)
dilanjutkan ayat berikut nya,

ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
(Yaitu) orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya. (QS. Al-Kahfi :104)

Mereka menyangka melakukan yang terbaik, ini bukan tentang orang yang malas beribadah. Ini tentang orang yang sangat rajin, tapi kehilangan sesuatu di dalamnya yang membuat semua kerjanya menjadi sia-sia.

Dan yang paling menyakitkan, mereka tidak tahu. Semakin banyak amal tanpa memeriksa hati, semakin jauh dari Allah. Bukan karena Allah tidak mau menerima. Tapi karena yang datang hanya tubuhnya, sementara hatinya ada di tempat lain.

 

Bagaimana agar tahu apakah hatimu masih terhubung dengan amalmu?

 

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhannya mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal : 2)

Gemetar, bukan hafal, bukan fasih, bukan banyak…. Gemetar (wa-jilat qulu-buhum) , tanda ada sesuatu di dalam dada yang masih merespon, yang masih merasakan kehadiran Allah bukan hanya di pikiran tapi di seluruh dirinya.

Kalau kamu masih merasakannya, hatimu masih hidup. Dan itu lebih berharga dari seribu rakaat yang kososng.

Mungkin sekarang kamu bertanya, apakah amalku selama ini sampai? Apakah ibadahku hidup, atau hanya berjalan otomatis?

Pertanyaan itu sendiri adalah jawaban pertanyaanmu. hati yang benar-benar mati tidak akan pernah mempertanyakan kondisinya sendiri.

Al-Qur’an tidak diturunkan untuk menghakimimu, Ia diturunkan untuk menunjukkan celah apa yang selama ini tidak kamu lihat, bukan agar kamu berhenti beramal, tapi agar kamu mulai beramal dengan cara yang berbeda.

Lebih sedikit mungkin. Tapi lebih dalam. Lebih jujur. Lebih hadir. Karena setiap hari yang kamu mulai dengan hati yang masih mau memeriksa dirinya, adalah hari yang tidak sia-sia.

Wallahu a’lam bishawab

 

 

Penulis: Moh SubhanEditor: Omni Publika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *