banner 728x250

Leuweung Ruksak, Cai Beak, Manusia Balangsak

Omni Publika

Foto Ilustrasi : tangkapan laman FB Camping & Adventure Family

BANDUNG – OMNIPUBLIKA , Leuweung rusak, cai beak, manusia balangsak. Bagi orang Sunda, alam bukan sekadar tempat untuk hidup. ia adalah bagian dari kehidupan yang harus dijaga.

Hutan menyimpan air. Air menghidupkan sawah, kebun, dan kampung. Dan dari sanalah kehidupan manusia terus berjalan.

Ketika hutan rusak, dampaknya tidak berhenti pada hilangnya pepohonan. Sumber air bisa berkurang, tanah kehilangan daya dukungnya, dan kehidupan manusia ikut terdampak.

Pesan ini juga hidup dalam nilai leuwueng titipan, hutan yang dipandang sebagai titipan untuk dipelihara, bukan semata-mata untuk dieksploitasi. Sebab apa yang dilakukan alam hari ini, akan dirasakan oleh incu putu, generasi yang akan datang.

“Kalau hutan rusak, air akan habis, dan manusia akhirnya sengsara”. 

Bukan sekadar ungkapan tentang alam. Ini adalah cara melihat bahwa kehidupan manusia sangat bergantung pada keseimbangan lingkungan.

Maknanya :

  • Ketika hutan rusak, air ikut terancam. Sumber mata air berkurang, tanah mudah longsor, ekosistem terganggu.
  • Ketika air habis, sawah kering, hasil bumi menurun, kehidupan menjadi sulit.
  • Ketika itu terjadi, manusia yang menanggung akibatnya, kelahiran, kesehatan, ekonomi, hingga masa depan anak cucu kita.
  • Maka, bagi kasepuhan Cicarucuh, Leuweung Titipan bukan untuk dieksploitasi, tapi untuk dipelihara.

Menjaga hutan hari ini, berarti menjaga kehidupan incu putu – generasi yang akan datang.

Mungkin peribahasanya singkat, tapi kalau direnungkan, pesannya sangat panjang.

Editor: Omni Publika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *