banner 728x250

Manusia Adalah Penjaga, Bukan Penguasa Alam : Dalam Perspektif Leluhur Sunda

Tradisi musim hujan di Tatar Sunda : babangkitan dan ngaruwat bumi, bentuk kearifan lokal yang mencerminkan hubungan dengan Tuhan dan alam semesta (Foto : Tangkapan Layar Laman infogarut.id)

BANDUNG, OMNI PUBLIKA – Berbicara alam semesta adalah berbicara persoalan yang kompleks dan universal. Pun manusia sebagai object yang dikaruniai akal dan nurani adalah titik penting dalam kesatuan itu.

Namun, benarkah manusia adalah sebagai pusat dunia?

Dalam pandangan modern, manusia sering dianggap “penguasa” bumi. Tetapi bagi leluhur Sunda, manusia hanyalah satu bagian kecil dari “keseimbangan semesta“.

Bagi masyarakat Sunda kuno, gunung, hutan, air dan tanah bukanlah objek untuk dikuasai. Mereka adalah bagian dari kehidupan yang harus “dihormati“. Karena merusak alam berarti merusak diri sendiri.

“Manusia adalah penjaga, bukan penguasa”.

Dalam kosmologi Sunda, manusia ditempatkan di tengah kehidupan.

  • Bukan paling tinggi : bukan untuk menguasai alam semesta.
  • Bukan paling rendah : bukan sekadar makhluk kecil yang tak berarti.
  • Tetapi penjaga harmoni : menjaga keseimbangan antara alam dan Sang Hyang ( entitas suci/ Tuhan).

Ketika manusia menjaga harmoni, kehidupan mengalir dengan baik. itulah jalan menuju rahayu.

Tri Tangtu (konsep falsafah hidup) : Keseimbangan Adalah Tujuan

Dalam menjaga keseimbangan terjadi dalam tiga interaksi, yakni :

  • Hubungan dengan Sang Pencipta;
  • Hubungan sesama manusia;
  • Hubungan dengan alam semesta.

Keseimbangan antara Sang Hyang, sesama manusia, dan alam semesta. Inilah yang dikenal sebagai Tri Tangtu, yakni :

  1. Ketika hubungan manusia dengan Sang Pencipta dijaga, lahirlah kesadaran;
  2. Ketika hubungan manusia dengan sesama dijaga, lahirlah kasih dan kebersamaan;
  3. Ketika hubungan manusia dengan alam dijaga, lahirlah kehidupan yang lestari.

Semua harus berjalan selaras. Jika salah satu rusak, maka keseimbangan hidup ikut rusak. Harmoni bukanlah keadaan alami. Ia adalah pilihan, kesadaran dan tanggung jawab.

Leluhur Sunda percaya, tujuan hidup bukanlah menjadi yang paling kuat. Tetapi mencapai Rahayu, yakni keadaan harmonis, selaras, dan sejahtera bersama alam, sesama dan Sang Hyang (Tuhan).

Ketika kita sudah memahami posisi manusia di dunia, kita akan tumbuh dengan keyakinan bahwa manusia adalah penjaga keseimbangan kehidupan. Bahwa alam ada untuk dikelola dan dimanfaatkan, bukan sesekali untuk dikuasai.

Menjaga keseimbangan sejatinya adalah menjaga kehidupan itu sendiri.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *