KEBUMEN, OMNI PUBLIKA – Deburan ombak Pantai Heppiii, Desa Ayam Putih, Kecamatan Buluspesantren, Kebumen berpadu harmonis dengan gemuruh irama gamelan pada Ahad Pahing, 27 September 2026. Pesisir pantai selatan tersebut disulap menjadi ajang pementasan budaya yang memikat perhatian ratusan warga dan wisatawan dalam pagelaran bertajuk “Merawat Tradisi, Menghidupkan Budaya, Menyatukan Masyarakat”.
Pesta budaya yang berlangsung dari pukul 13.30 hingga 17.00 WIB ini diinisiasi oleh kolaborasi apik antara Yayasan Bolo Sewu Nyawiji (BosNya) Kebumen dan Pemerintah Desa Ayam Putih. Agenda ini menjadi sarana nyata menjaga warisan leluhur agar tetap berakar kuat di tengah arus modernisasi.
Pengunjung yang memadati kawasan pantai disuguhi ragam pertunjukan yang energik dan sarat akan nilai sejarah. Sebanyak 30 peserta membawakan 5 jenis kesenian unggulan dari Yayasan Bolo Sewu Nyawiji yaitu :
- Seni Tradisional Cowong Bolosewu Kebumen: Pertunjukan ritual mistis nan puitis yang menjadi sarat makna spiritual.
- Tari Cepet Ayu: Tarian bertopeng khas yang memadukan keanggunan gerakan dengan ekspresi kostum yang unik.
- Wadon (Kuda Kepang): Atraksi kuda lumping yang dibawakan oleh para penari perempuan dengan kelincahan dan ketangkasan luar biasa.
- Karawitan Bolosewu Nyawiji: Sajian gending-gending Jawa yang merdu, menciptakan atmosfer hangat di sepanjang garis pantai.
- Debus Kabumian: Pertunjukan seni ketangkasan dan olah fisik yang memicu kekaguman serta adrenalin para penonton.Di antara seluruh pementasan, ritual Cowong Bolosewu Kebumen menjadi daya tarik tersendiri yang
- paling mencuri perhatian pengunjung. Boneka penjelas (simbolis) yang digerakkan oleh para pemangku adat menghadirkan suasana puitis sekaligus magis yang membuat mata penonton tak berpaling.

Ketua Yayasan Bolo Sewu Nyawiji, Wiji Winaras, menjelaskan bahwa Cowong merupakan tradisi khas Banyumasan yang sarat makna.
“Ritual Cowong itu ritual khas dari Banyumasan. Tujuannya untuk memohon turunnya hujan dan rezeki, apalagi di Kebumen sekarang sedang mengalami musim kekeringan karena musim kemarau,” ujar Wiji.
Secara filosofis, ritual Cowong memiliki nilai-nilai penting bagi masyarakat Kebumen:
- Permohonan Hujan & Rezeki: Bentuk ikhtiar spiritual masyarakat agraris dan pesisir kepada Sang Pencipta agar diberi keteduhan dan keberkahan limpahan rezeki di tengah kemarau panjang.
- Keseimbangan dan Hubungan dengan Alam: Mengajarkan pentingnya menjaga harmoni antara manusia, alam sekitar, dan Sang Maha Kuasa.
- Simbol Keagungan Tradisi: Mencerminkan kearifan lokal masyarakat dalam menghadapi tantangan alam melalui media seni spiritual yang sarat filosofi.
Kehadiran Gelar Seni Tradisional di tepi pantai menyajikan perpaduan unik antara keindahan alam laut dan kekayaan warisan leluhur. Antusiasme terlihat dari raut wajah penonton dari berbagai generasi yang bertahan hingga akhir pementasan.
Melalui suksesnya gelaran ini, masyarakat Kebumen membuktikan bahwa semangat melestarikan warisan budaya tetap membara. Ayo terus rawat budaya dan lestarikan Seni Tradisional Kebumen!


