banner 728x250

Eyang Jaya Perkasa : Mahapatih Perkasa Penyelamat Mahkota Raja

Tana Kustana S.E

Ilustrasi : Eyang Jaya Perkasa

BANDUNG, OMNIPUBLIKA – Eyang Jaya Perkasa atau dikenal juga sebagai Bathara Sanghyang Hawu merupakan satu dari empat Kandagalante (Utusan) yang diberi amanat oleh Prabu Suryakancana, Siliwangi terakhir Kerajaan Pajajaran yang runtuh akibat serangan pasukan gabungan Banten dan Cirebon. Dirinya diberi amanat untuk menyerahkan makuta Binokasih Sanghyang Pake kepada Prabu Anggalarang atau Prabu Geusan Ulun dan mewariskan Kerajaan Pajajaran kepada Penguasa Sumedang larang tersebut.

Mahkota itu diserahkan kepada Raja Sumedang sebagai tanda bahwa selepas runtuhnya Pajajaran, Sumedang ditunjuk sebagai pelanjut.

Pada masa Prabu Geusan Ulun memerintah Sumedang, terjadi perang antara Kerajaan Sumedang Larang melawan Kasultanan Cirebon. Sebabnya tak lain karena Prabu Geusan Ulun yang didukung Jaya Perkasa membawa lari selir Sultan Cirebon (Panembahan Ratu).

Singkat cerita terjadilah perang antara kerajaan Sumedang Larang dan Kesultanan Cirebon.

Eyang Jaya Perkasa pada saat itu berkata kepada Prabu Geusan Ulun, jika dirinya berempat sanggup menghadapi musuh, dan meminta Prabu Geusan Ulun untuk tidak khawatir dan jangan gentar, dan menunggu di keraton.

Namun, sebelum berangkat untuk menghadap prajurit dari Cirebon, Eyang Jaya Perkasa menanam pohon hanjuang di sudut alun – alun Kutamaya, sambil berkata.

“Jika perang sudah selesai, lihatlah pohon hanjuang itu, kalau daunnya rontok atau pohonnya layu, berarti suatu tanda bahwa hamba gugur di medan perang. Tetapi jika pohon itu tetap segar dan tumbuh subur itu tanda bahwa hamba unggul di medan perang”.

Selesai menanamkan pohon hanjuang, berangkatlah keempat andalan Kerajaan itu ke medan perang, untuk mempertaruhkan nyawanya demi Sumedang Larang.

Singkat cerita, Patih Eyang Jaya Perkasa dan ketiga rekannya terlibat perang yang dahsyat. Berkat kesaktian keempat patih itu tentara Cirebon dapat dipukul mundur olehnya. Eyang Jaya Perkasa terus mengejar musuhnya waktu itu, hingga makin lama makin jauh dari ketiga temannya. Setelah sekian lamanya Eyang Jaya Perkasa tidak kelihatan kembali, sedangkan ketiga temannya masih menunggu.

Karena tidak kunjung datang, ketiga temannya pulang ke Sumedang Larang akan mengabarkan keadaan Patih Eyang Jaya Perkasa kepada Prabu Geusan Ulun.

Setiba di keraton ketiga patih itu menceritakan kejadian itu ke Prabu Geusan Ulun. Mendengar berita hilangnya Eyang Jaya Perkasa, Prabu Geusan Ulun bingung, dan memutuskan untuk memindahkan Kerajaan Sumedang Larang ke Dayeuhluhur.

Sementara itu, Patih Eyang Jaya Perkasa yang tiba kembali di Kutamaya, merasa heran karena keraton kerajaan sudah kosong. Waktu itu, Eyang Jaya Perkasa melihat pohon hanjuang yang ditanamnya dahulu. Ternyata pohon itu tumbuh subur. Dari situ Eyang Jaya Perkasa merasa marah, dan ketika berpaling ke sebelah timur terlihat olehnya asap mengepul-ngepul di lereng gunung.

Dan akhirnya ia menyusul ke Dayeuhluhur, Setelah sampai di Dayeuhluhur Ebah Jaya Perkasa kemudian bertanya ke Prabu Geusan Ulun. Mengapa Gusti tidak melihat tanda yaitu pohon hanjuang yang hamba tanam dan dari siapa Gusti mendengar kabar bahwa hamba telah tewas? . Mendengar jawaban Prabu Geusan Ulun demikian itu, Eyang Jaya Perkasa marahnya kian menjadi-jadi.

Patih Eyang Jaya Perkasa kemudian meninggalkan Prabu Geusan Ulun sambil bersumpah tidak akan mau mengabdi lagi kepada siapapun juga.

Patih Eyang Jaya Perkasa berjalan ke puncak dan menancapkan tongkatnya dan disitulah Eyang Jaya Perkasa moksa atau ngahyang. Ditempat petilasanya terdapat batu dakon dan tongkat apung yang dikeramatkan tepatnya di Desa Dayeuhluhur Kecamatan Ganeas Kabupaten Sumedang.

Eyang Jaya Perkasa dikenal sebagai patih yang sakti dan dikenal sebagai  sosok Ksatria terakhir dari Kerajaan Pakuan Pajajaran. Beliau membawa Mahkota Pajajaran ke Sumedang sebagai simbol penerus kerajaan tersebut.

Warisan Eyang Jaya Perkasa 

Petilasan Eyang Jaya Perkasa terletak di Dayeuhluhur dan ada peraturan unik yang diberlakukan, yakni : peziarah dilarang memakai pakaian Batik.

Konon Batik tidak disukai Eyang Jaya Perkasa karena dianggap simbol orang Cirebon. Dan larangan penggunaan Batik itu terus turun temurun hingga masih ada sampai saat ini jika masuk wilayah makam dan atau petilasannya.

Namun versi lainnya menyebutkan bahwa, larangan memakai batik saat berziarah mencerminkan niat tulus dan hati yang bersih. Niat dalam hati apabila ingin berziarah ke makam Eyang Jaya Perkasa harus dengan hati yang tulus dan bersih dan jangan membatik atau bercabang seperti warna batik.

Ada dua peninggalan Eyang Jaya Perkasa yang masih bisa dilihat saat ini:

  1. Batu Jungjun atau batu Dakon (Batu Pamongkanan) itu mempunyai keistimewaan, konon katanya kalau kebetulan waktu diangkat terasa ringan. Maka yang dimaksud oleh yang mengangkat batu tersebut akan mudah tercapai dan begitu juga sebaliknya. Siapa pun yang mampu mengangkat batu tersebut hingga setinggi dada akan mencapai cita-citanya.
  2. Tongkat dengan tinggi 182 CM dan Madelin 27 Cm.

Menurut cerita para sesepuh Dayeuh Luhur, batu yang berdiri tersebut, dulunya tidak menempel di tanah kurang lebih 30 Cm. Kemudian ditumpuk batu-batu kecil hingga kelihatan merapat dengan tanah.

Namun, hal ini tetap harus dilandasi keyakinan bahwa segala sesuatu hanya terjadi atas izin Allah SWT, dan niat harus senantiasa lurus.

Merawat Ingatan Sejarah

Sejarah mengajarkan, bahkan pada saat masa pemerintahaan dalam bentuk Kerajaan dan kasultanan, tidak lepas dari peristiwa yang menimbuilkan perselisihan dan bahkan hingga naik menjadi peperangan. Namun demikian, kenyataan ini tidak lantas menjadi luka yang harus diturunkan turun temurun ke anak cucu. Karena perjalanan sejarah itu sendiri adalah bukti yang harus menjadi pelajaran berharga untuk generasi penerus agar menjadikan sebagai kompas untuk saling menjaga dan menghormati antar sesama.

Legenda dan kepercayaan seputar petilasan ini mengingatkan bahwa nilai sejarah dan spiritualitas memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat.

Penulis: Tana Kustana, S.EEditor: Moh. Subhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *