banner 728x250

Menatap Pesona Strawberry Moon Akhir Juni 2026: Purnama Apogee yang Istimewa

Pesona Strawberry Moon diwilayah Kabupaten Batang, Jawa Tengah pada Senin malam ( 29/06/2026 ). ( Foto : Dok Omni Publik/Lastri )

 

BATANG, OMNI PUBLIKA – Langit malam pada 29–30 Juni 2026 menyuguhkan salah satu fenomena astronomi yang paling dinanti tahun ini yaitu Strawberry Moon.

Menariknya, purnama kali ini tidak hanya sekadar purnama biasa, melainkan sebuah fenomena langka yang dikenal sebagai Purnama Apogee atau Micromoon.

Namun, apa sebenarnya yang membuat Strawberry Moon kali ini begitu istimewa? Yuk, simak ulasan lengkapnya!

Mengapa Disebut “Strawberry Moon”?

Bagi Anda yang mengharapkan Bulan akan berubah warna menjadi merah muda atau berbentuk seperti buah stroberi, siap-siap kecewa. Nama ini sama sekali tidak berkaitan dengan warna ataupun bentuk fisik Bulan.

Istilah Strawberry Moon berasal dari tradisi suku asli Amerika Utara (seperti suku Algonquin). Mereka menggunakan purnama di bulan Juni sebagai penanda alami bahwa buah stroberi liar sudah matang dan siap dipanen.

Saat terbit di ufuk, Bulan justru akan cenderung menampilkan semburat warna emas atau oranye hangat akibat pembiasan cahaya di lapisan atmosfer Bumi yang tebal.

Sisi Unik Menjadi Micromoon (Purnama Apogee)

Purnama Juni 2026 ini menjadi sangat unik karena bertepatan dengan posisi Bulan yang berada di titik terjauh dari Bumi (apogee).

Ukuran Lebih Kecil

Karena jaraknya yang menjauh (sekitar 406.265 km dari Bumi), Bulan akan tampak sedikit lebih kecil dan sedikit lebih redup dibandingkan dengan Supermoon (Purnama Perigee). Oleh karena itu, fenomena ini sering juga disebut Mini Full Moon atau Micromoon.

Waktu Terbaik untuk Mengamati di Indonesia

Fase puncak Strawberry Moon ini secara astronomis jatuh pada Selasa, 30 Juni 2026 pukul 06.57 WIB. Karena puncaknya terjadi di pagi hari saat Matahari sudah mulai terbit, waktu terbaik bagi masyarakat Indonesia untuk menikmati keindahannya secara visual adalah pada malam hari tanggal 29 Juni hingga dini hari 30 Juni 2026.

Cukup pandang ke arah langit timur selepas Matahari terbenam untuk menyaksikan Bulan mulai merayap naik menembus kegelapan malam.

Penulis: Lastri MeyditaEditor: Omni publika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *