PURWOREJO, OMNI PUBLIKA – Keluarga besar pemangku adat Kadipaten Loano kembali melaksanakan ritual tahunan penyucian atau jamasan benda pusaka. Prosesi sakral ini dilangsungkan di Kompleks Pasepen Gagak Handoko yang berlokasi di Dukuh Turusan, Desa Loano, Purworejo, pada Sabtu (27/06/2026). Agenda rutin ini digelar sebagai langkah konkret dalam merawat warisan sejarah serta kebudayaan lokal.
Meskipun dikemas dalam nuansa kesederhanaan, atmosfer khidmat tetap menyelimuti seluruh jalannya ritual. Berbagai senjata dan memorabilia utama sisa kejayaan Kadipaten Loano—yang sehari-hari disimpan di Museum Gagak Handoko—dikeluarkan untuk dibersihkan.
Sekretaris Desa Loano, Erwan W. Azhari, mengungkapkan bahwa ritual pembersihan benda pusaka ini merupakan warisan turun-temurun yang digelar berkala pasca-tanggal 10 Suro.
”Ini adalah agenda tahunan dari keluarga pemangku adat. Pelaksanaannya sengaja dibuat minimalis tahun ini karena ritual skala besar (jamasan ageng) baru akan diadakan tiga tahun sekali, tepatnya setahun sebelum agenda bersih desa atau Garebeg,” tutur Erwan.
Ia menambahkan, ritual jamasan ageng berikutnya diproyeksikan bakal bergulir pada tahun 2027 mendatang, sebagai pembuka menuju perhelatan akbar Grebeg Loano di tahun 2028.
Daftar Pusaka yang Disucikan
Beberapa artefak bersejarah yang dibersihkan dalam ritual kali ini meliputi:
- Tombak Kiai Warak (regalia resmi Kadipaten Loano)
- Tombak Kiai Jangkung dan Kiai Semangkan
- Keris Kiai Sengkelat dan Kiai Jalak (senjata ageman Adipati Loano)
- Aksesori pelengkap seperti cemeti, jimat Nyipolo, hingga kuluk (mahkota adipati).
Menurut Erwan, jajaran benda pusaka tersebut bukan sekadar senjata, melainkan simbol dari nilai kewibawaan sekaligus sifat bersahaja. Seluruh peninggalan dari figur Gagak Handoko ini kini dirawat dengan baik di dalam Museum Loano.
Sebagai informasi, kawasan Kompleks Pasepen yang menjadi lokasi acara dipercaya masyarakat sebagai tempat bernaung terakhir Gagak Handoko pasca-berakhirnya Perang Jawa. Kini, situs bersejarah tersebut dialihfungsikan menjadi pusat kegiatan adat sekaligus destinasi edukasi sejarah.
Pemerintah desa setempat menggarisbawahi bahwa konsistensi dalam merawat tradisi merupakan kunci utama mempertahankan identitas kolektif masyarakat di tengah gempuran zaman.
Harapan serupa juga diutarakan oleh Agus Joko Trapsilo selaku representasi dari garis keturunan Gagak Handoko. Ia sangat berharap agar tradisi luhur ini tidak terputus dan bisa terus diestafetkan kepada generasi-generasi baru di masa depan.














