banner 728x250

W.R. Supratman : Maestro Lagu Pemersatu Bangsa Yang Tak Pernah Merdeka

BANDUNG, OMNI PUBLIKA – Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah atau disingkat Jasmerah adalah semboyan yang terkenal yang diucapkan oleh Presiden Soekarno, dalam pidatonya yang terakhir pada Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1966.

Presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno juga mengungkapkan bahwa “Bangsa Yang besar, adalah Bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya”.

Kemerdekaan republik tercinta ini adalah hasil perjuangan seluruh komponen anak bangsa, baik yang dilakukam dengan cara mengangkat senjata, diplomasi atau bahkan dari karya seni, dimana semua tujuannya satu : menjadi bangsa yang merdeka

Jika pejuang lain melawan Belanda menggunakan bambu runcing atau senapan, pemuda kurus berkacamata ini memilih jalan yang jauh lebih elegan namun mematikan.

Senjatanya adalah sebuah Biola..ya Biola, alat musik sejenis gitar namun dimainkan dengan cara digesek menggunakan alat yang disebut bow (penggesek). dan Pelurunya adalah rentetan nada, Namanya Wage Rudolf Supratman.

Puncak perlawanannya terjadi pada malam penutupan Konggres Pemuda II, 28 Oktober 1928. Di tengah tatapan tajam para intelijen PID (Politieke Inchtingen Dienat) Belanda yang berjaga, Supratman maju ke depan. Untuk pertama kalinya Ia menggesek biolanya dan melantunkan mahakaryanya : Indonesia Raya.

Meskipun malam itu dimainkan tanpa lirik untuk menghindari penangkapan, saat lirik “Indonesia Raya” akhirnya tersebar luas, pemerintah kolonial Hindia Belanda panik bukan main.

Kata “Merdeka, Merdeka” di dalam lagu itu dianggap sebagai bentuk subversi dan pemberontakan paling nyata.

Sejak saat itu, hidup Supratman tak pernah tenang. Karya musiknya dilarang keras dan dicap sebagai ancaman negara. Supratman menjadi target operasi intelijen Belanda. Ia kemudian diburu, diawasi setiap gerak geriknya, dan terpaksa hidup berpindah-pindah dalam kemiskinan demi menghindari penangkapan.

Puncaknya terjadi pada awal Agustus 1938, saat Supratman menciptakan lagu “Matahari Terbit” dan menyiarkannya. Bersama pandu-pandu (pramuka) di studio Radio NIROM Surabaya. Belanda yang paranoid langsung menangkapnya. Ia sempat dijebloskan ke penjara Kalisosok sebelum akhirnya dibebaskan karena tidak terbukti mendukung Kekaisaran Jepang.

Kondisi fisik Supratman yang sudah lama mengidap tuberculosis (TBC) semakin hancur di balik jeruji besi. Beberapa saat setelah dilepaskan karena kondisinya yang sekarat, sang maestro menghembuskan napas terakhirnyadi usia 35 tahun pasa 17 Agustus 1938.

Ia meninggal tepat tujuh tahun sebelum Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan RI. Sang pencipta lagu kebangsaan itu tak pernah sekalipun mendengar mahakaryanya dinyanyikan secara resmi di atas tanah air yang merdeka dari cengkeraman penjajah.

Merawat Ingatan Sejarah 

W.R Supratman membuktikan bahwa perlawanan tidak harus selalu lewat pertumpahan darah. Sebuah karya seni justru bisa menjadi senjata psikologis yang meruntuhkan keangkuhan mental penjajah.

(disarikan dari berbagai sumber)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *