banner 728x250

Frans Kaisiepo : Kisah Pahlawan Sepuluh Ribu

ilustrasi : Frans Kaisiepo : Pahlawan Nasional Penyatuan Papua ke dalam NKRI (tangkapan Laman id.pngtree.com/)

BANDUNG, OMNI PUBLIKA – Coba cek dompet kalian, ada uang sepuluh ribu keluaran baru nggak? Pasti banyak yang sering pakai uang Rp. 10.000 buat jajan atau bayar parkir, tapi belum tahu siapa sosok yang menghiasi uang di lembar ini.

Perhatikan baik-baik wajah tokoh pahlawan yang tercetak di sana. Beliau bukan sekadar penghias uang kertas. Wajah pahlawan di sana itu bukanlah orang sembarangan. Beliau ini adalah “Raksasa dari Timur” yang berjuang mati-matian agar Papua (dulu Irian Barat) bisa masuk ke pangkuan NKRI.

Beliau adalah raksasa sejarah dari ujung timur Indonesia yang kesetiannya tak bisa dibeli. Namanya Frans Kaisiepo.

Lahir di Pulau Biak pada tahun 1921, Frans tumbuh dengan jiwa nasionalisame yang menyala di tengah ketatnya cengkeraman penjajah.

Ketika banyak elite lokal pada masa itu memilih tunduk kepada Belanda demi posisi aman dan jabatan, Frans justru memilih jalan sunyi yang penuh bahaya. Hatinya sudah merah putih sejak awal.

Ketegangan memuncak pada bulan Juli 1946. Saat itu Belanda menggelar Konferensi Malino dengan niat licik, membentuk negara-negara boneka untuk memecah belah wilayah Indonesia.

Frans Kaisiepo diundang hadir sebagai satu-satunya delegasi yang mewakili…tanah kelahirannya, Papua. Di sanalah nyali bajanya diuji. Di hadapan para perwira dan pejabat tinggi militer Belanda yang angkuh, Frans melakukan manuver yang sangat nekat.

Ia menolak keras penggunaan nama “Nederlands Nieuw Guinea” yang berbau kolonialisme. Dengan lantang, Ia menggangti nama wilayahnya menjadi “IRIAN” sebuah kata puitis yang ia ambil dari bahasa asli Biak, yang bermakna “tanah panas” atau “tanah yang beruap”.

Belanda awalnya tertipu, mengira itu hanyalah sebutan lokal biasa. Namun betapa terkejut dan murkanya mereka saat menyadari makna politis yang disembunyikan Frans. Tanpa rasa takut, Frans menyisipkan singkatan mematikan, IRIAN adalah kependekan dari “Ikut Republik Indonesia Anti Nederland!”.

Tamparan keras di ruang konferensi itu harus dibayar dengn harga yang sangat mahal.

Karena terus menentang pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT) bentukan Belanda, Frans menjadi target utama. Ia akhirnya ditangkap, dijebloskan ke penjara, dan diasingkan ke tempat terpencil selama bertahun-tahun demi mematahkan semangatnya. Namun, ia tak pernah menyerah.

Beruntung, semangat teguhnya tak pernah padam hingga Papua resmi kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi secara utuh.

Merawat Ingatan Sejarah 

Dari Irian Jaya hingga menjadi Papua, nama ini memiliki perjalanan panjang yang dimulai dari perjuangan seorang tokoh lokal pemberani.

Wilayah yang sebelumnya dikenal dengan nama Irian Jaya (karena ditambahkan kata “Jaya” oleh Presiden Soeharto) ini telah resmi berganti nama menjadi Papua sejak disahkannya Undang-Undang Otonomi Khusus pada tahun 2001.

Kata Papua sendiri berasal dari bahasa Melayu yang berarti “berambut keriting”, merujuk pada ciri fisik penduduk aslinya.

 

Mulai hari ini, setiap kali kalian memegang atau melipat selembar uang sepuluh ribu rupiah, ingatlah perjuangan sosok di dalamnya.

 

Sumber : Wikipedia ; sumber lainnya &  https://peraturan.bpk.go.id/Details/44901/uu-no-21-tahun-2001

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *