Acara Focus Group Discussion (FGD) dan Penandatanganan Kerja Sama Desa Mitra di Aula Gedung Rektorat Lantai 6, Kampus Untidar, Selasa (14/7/2026), ( Foto : Dimas )
MAGELANG, OMNI PUBLIKA – Universitas Tidar (Untidar) terus berkomitmen mendorong transformasi desa-desa di Kabupaten Magelang menuju kemandirian ekonomi dan sosial. Komitmen ini dipertegas dalam acara Focus Group Discussion (FGD) dan Penandatanganan Kerja Sama Desa Mitra yang berlangsung di Aula Gedung Rektorat Lantai 6, Kampus Untidar, Selasa (14/7/2026).
Di antara berbagai tim pelaksana yang hadir, Tim PPK Ormawa BEM Fakultas Ekonomi (FE) Untidar turut hadir dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan strategis ini. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata pengabdian mahasiswa yang saat ini tengah diterjunkan langsung di Desa Tirto, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang.

Melalui program PPK Ormawa, BEM FE berfokus membina potensi lokal Desa Tirto guna menciptakan ekosistem desa yang mandiri secara ekonomi dan berkelanjutan.
Dalam forum diskusi tersebut, pentingnya sinergi antara mahasiswa, dosen pendamping, dan pemerintah desa menjadi sorotan utama. Dukungan penuh dari pihak desa dinilai sebagai fondasi keberhasilan program.
Seperti yang disampaikan oleh salah satu kepala desa mitra, Sudarsono Kepala Desa Sidorejo, peran mahasiswa PPK Ormawa sangat terasa dalam membantu mengedukasi warga, mendirikan bank sampah di setiap dusun, hingga memecahkan masalah minimnya pengetahuan pengelolaan lingkungan seperti budidaya maggot.
Kunci Keberhasilan : Pendampingan Efektif dan Keberlanjutan Program
Dosen pendamping lapangan, Winasti Rahma Diani, M.Hum., memaparkan bahwa pendampingan yang efektif harus menyentuh seluruh lini kegiatan. Mulai dari pemantik diskusi, penyusunan konsep, implementasi teknologi seperti website desa, hingga persiapan penilaian.
“Kuncinya adalah menyesuaikan program dengan kondisi nyata masyarakat desa dan kesiapan tim pelaksana. Kita harus memastikan bahwa setelah mahasiswa ditarik, program ini tetap bertahan lama dan dikelola secara mandiri oleh warga, perangkat desa, atau kelompok lokal,” terangnya.

Strategi ini selaras dengan fokus Tim PPK Ormawa BEM FE Untidar di Desa Tirto. Tim mahasiswa tidak hanya berfokus pada luaran wajib, melainkan juga membangun kelembagaan kelompok sasaran, menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP), serta merintis alur finansial yang sehat agar program yang dijalankan di Desa Tirto memiliki dampak jangka panjang (multiplayer effect).
Mempersiapkan Diri Menuju Abdidaya Ormawa 2026
Selain membahas keberlanjutan program di desa, FGD ini juga membekali para mahasiswa dengan strategi menghadapi Penilaian Kemajuan Pelaksanaan (PKP) menuju ajang bergengsi nasional, Abdidaya Ormawa.
Heni Purwanti dari HIMAPBIO dan Lusiana Rindaryani dari HIMEPA, yang telah memiliki rekam jejak impresif di program pengabdian masyarakat, membagikan tips berharga bagi para tim pelaksana. Mereka menekankan pentingnya validasi luaran proposal hingga mencapai 90-100%, kerapian dokumentasi logbook, serta penyajian data riil dan terukur saat presentasi di hadapan para reviewer.
“PKP akan menanyakan bukti riil. Berapa persen perkembangannya, seberapa besar dampaknya. Kita harus menyajikan cerita program secara runtut dan logis: mulai dari masalah, solusi, dampak, hingga strategi keberlanjutannya dengan membawa contoh produk nyata dan dokumen HKI,” jelas Lusiana.
Melalui keikutsertaan dalam FGD dan penandatanganan kerja sama ini, Tim PPK Ormawa BEM FE Untidar semakin mantap melangkah dalam mengabdi di Desa Tirto, Grabag. Harapannya, kolaborasi erat antara civitas akademika Untidar dan pemerintah desa ini tidak hanya membawa prestasi di tingkat nasional, tetapi benar-benar melahirkan Desa Tirto sebagai desa mandiri yang menjadi pelopor di wilayah Kabupaten Magelang.














