Menekankan pentingnya kualitas proyek sebagai harga mati, Kepala DPUPR Batang Endro Suryono melarang keras adanya pengawas yang merangkap jabatan. ( Foto : Laman Pemda Batang )
BATANG, OMNI PUBLIKA – Lembaran baru tahun ajaran baru segera dimulai. Pada Senin, 13 Juli mendatang, ribuan siswa baru di Kabupaten Batang akan serentak menginjakkan kaki di sekolah pilihan mereka.
Menyambut kehadiran para tunas bangsa ini, Pemerintah Kabupaten Batang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) bergerak cepat memastikan bahwa Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ini akan berjalan dengan aman, nyaman, dan sepenuhnya bersih dari praktik perpeloncoan.
Kepala Disdikbud Batang, Bambang Suryantoro Sudibyo, menegaskan bahwa tradisi lama yang sarat dengan tekanan fisik maupun mental sudah usang dan tidak memiliki tempat lagi di lingkungan pendidikan modern.
“Sudah beberapa tahun ini MPLS itu berjalan tidak ada semacam senior junior. Terus dulu istilahnya kalau diospek itu kan ada kekerasan bukan kekerasan fisik ya, tapi yang terkait dengan fisik yang memberatkan. Insyaallah tahun ini yang penting ramah bagi siswa baru,” ujar Bambang.
Bambang meluruskan bahwa esensi utama dari MPLS adalah masa adaptasi, bukan panggung bagi para senior untuk unjuk gigi atau merasa berkuasa. Sekolah diwajibkan mengemas kegiatan awal ini secara edukatif, humanis, dan menyenangkan agar siswa baru merasa diterima hangat di lingkungan barunya.
“Namanya saja Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah, berarti hanya dikenalkan di sekolah ini seperti ini loh. Nah, mereka kan baru masuk di situ. Sudah kita tekankan pada sekolah tidak boleh ada fisik di MPLS ini,” cetusnya.
Ia juga menambahkan bahwa kebijakan MPLS yang humanis ini bukan sekadar gebrakan musiman, melainkan regulasi yang terus dikawal ketat dari tahun ke tahun.
Lebih dari sekadar melarang kekerasan, Disdikbud Batang juga menginstruksikan pihak sekolah untuk bergerak aktif sejak hari pertama. Guru dan kepala sekolah diminta peka dan mencermati kondisi fisik serta riwayat kesehatan para siswa baru. Langkah ini penting guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan selama kegiatan berlangsung.
Sembari berbagi pengalaman pribadinya yang tidak kuat jika diminta berlari, Bambang meminta agar sekolah tidak segan untuk membangun komunikasi dua arah yang aktif dengan murid baru.
“Saya pernah sampaikan pada saat rapat bahwa karena saya mengalami sendiri. Saya itu kan kalau suruh lari kan enggak kuat. Jadi ditanya oleh kepala sekolah atau guru untuk menanyakan,
‘Kekuranganmu opo sih?’ Walaupun tidak ada lari ya, barangkali pas upacara terus sering pingsan. Jadi itu artinya sudah dicermati oleh masing-masing sekolah,” ungkapnya.
Langkah preventif ini dinilai sangat krusial. Sebab, meski MPLS kini didesain tanpa kontak fisik yang berat, beberapa aktivitas sederhana di lapangan tetap membutuhkan pemantauan khusus dari pihak pendidik.
“Memilah-milah siswa yang dikira-kira (kondisinya kurang fit). Walaupun tidak ada kekerasan, tidak ada MPLS terkait fisik loh ya, hanya kan kadang latihan upacara, baris-berbaris, itu kan kadang-kadang ada walaupun sekadar sederhana. Gitu,” pungkas Bambang.
Dengan pengawasan ketat ini, diharapkan para orang tua di Kabupaten Batang bisa melepas anak-anak mereka ke sekolah dengan rasa tenang, menyambut masa depan baru yang lebih cerah dan inklusif.














