BANDUNG, OMNI PUBLIKA – Permainan yang kita kenal dengan nama Ular – Tangga (Snakes & Ladders) dan sering kita mainkan di masa kanak-kanak ini awalnya memiliki nama Maksha Patam atau Gyan Chouper.
Diciptakan di India kuno sekitar abad ke-2 SM (Sebelum Masehi), permainan papan ini awalnya dirancang oleh para penyair dan orang suci Hindu, bukan untuk hiburan semata.
Tujuan utama pembuatan Maksha Patam adalah untuk mengajarkan konsep sipritualitas dan moralitas kepada anak-anak agar mereka memahami konsekwensi dari setiap perbuatan.
- Filosofi Tangga (Kebajikan)
Dalam versi aslinya, jumlah tangga di dalam papan permainan sengaja dibuat jauh lebih sedikit daripada jumlah ular.
Setiap anak tangga mewakili nilai kebajikan atau amal baik dalam hidup, seperti kejujuran, iman, kerendahan hati, dan keteguhan hati.
Ketika bidak pemain berhasil menginjak kotak tangga, mereka akan naik ke atas yang menyimbolkan bahwa perbuatan baik akan mendekatkan manusia menuju kesucian jiwa.
- Filosofi Ular (Maksiat)
Sebaliknya, keberadaan ular yang mendominasi papan permainan mewakili berbagai bentuk kejahatan, maksiat, dan nafsu buruk manusia.
Kotak-kotak yang memicu bidak meluncur turun melalui tubuh ular diberi label dosa seperti : pencurian, kemarahan, keserakahan, hingga pembunuhan.
Filosofi ini sengaja dibuat dominan untuk menunjukkan betapa mudahnya manusia tergelincir ke dalam dosa dan betapa sulitnya jalan untuk mempertahankan kebaikan.
Makna Akhir Permainan
Kotak terakhir atau kotak nomor 100 di ujung papan permainan mewakili konsep Moksha, yaitu pembebasan spiritual tertinggi.
Dalam keyakinan aslinya, mencapai kotak akhir berarti seseorang telah berhasil keluar dari siklus reinkarnasi dan bersatu dengan alam semesta.
Melalui permainan ini, masyarakat India kuno diajarkan bahwa nasib manusia sepenuhnya ditentukan oleh pilihan moral mereka sendiri.
Ketika Inggris menjajah India pada abad ke-19, permainan ini dibawa ke Barat dan mengalami komersialisasi massal hingga nilai-nilai religiusitasnya dihapus.
Versi modern yang kita mainkan saat ini mengubah jumlah jumlah ular dan tangga menjadi seimbang agar permainan terasa lebih adil dan menyenagkan.
Sejarah membuktikan bahwa sebuah permainan sederhana di masa lalu sebenarnya memuat cetak biru yang sangat mendalam tentang perjalanan spiritual manusia.
Sekarang..tengok lagi di laci almari..adakah alat ini masih tersimpan rapi..jika iya, ayo..mainkan lagi, bukan dengan teman sejawat tapi dengan anak-anak kita sembari menggali arti dan filosofi daripada permainan ini !














