BANDUNG, OMNI PUBLIKA – Pernahkah kamu mersa orang yang jujur sering disingkirkan dan orang yang mempertahankan prinsip justru ditekan, sedangkan mereka yang punya kekuasaan bisa melakukan apa saja.
Kalau kegelisahan itu terasa sangat dekat dengan hidup kita hari ini, ketahuilah hari ini bertepatan tanggal 10 Muharran adalah hari dan tanggal yang sama untuk 1.400 tahun lalu, dimana terjadi sebuah tragedi berdarah yang menjadikan sejarah paling kelam dalam dunia Islam, namanya “Karbala“.
Tokoh – tokoh yang terlibat dalam Perang Karbala :
- Yazid bin Muawiyyah : Khalifah kedua bani Umayyah, pertempuran terjadi saat ia memerintah.
- Ubaidullah bin Ziad : Gubernur Umayyah di Basra, Kuffah dan khurasan selama masa pemerintahan Khalifah Muawiyyah bin Abu Sufyan dan Zayid bin Muawiyyah. Ia mempimpin pasukan dalam pengepungan di Karbala.
- Sayyidina Husein bin Ali : Cucu Rasulullah, anak Ali bin Abi Thalib. Beliau menolak berbaiat (taat) kepada Yazid karena melihat banyak penyimpangan pada kekuasaan Zayid. Husein bin Ali wafat dalam perang Karbala.
- Sayyidah Zainab : Cucu Rasulullah, anak Ali bin Abi Thalib yang selamat dalam Perang Karbala. Ia menyuarakan kebenaran di hadapan Yazid dan rakyat Damascus.
Di padang pasir yang sunyi itu, cucu Rasulullah SAW harus memilih antara : menyerah kepada kekuasaan yang ia anggap zalim atau mempertahankan kebenaran meski nyawanya menjadi taruhan, dan Sayyidina Husein memilih pilihan kedua.
Tahun 61 Hijriyah. Yazid bin Muawiyah berkuasa. Banyak orang menilai pemerintahannya dipenuhi praktik yang meresahkan umat dan jauh dari nilai kepemipinan ideal dalam Islam.
Sayyidina Husein bin Ali menolak memberikan baiat, bukan karena ambisi kekuasaan dan ingin memberontak tapi karea ia tidak ingin melegitimasi sesuatu yang menurut keyakinannya tidak benar.
Ia berangkat menuju Kufah bersama keluarga, sahabat, perempuan, bahkan anak-anak tapi di tengah perjalanan, mereka dikepung di Karbala. Jumlah mereka sekitar 128 orang dan dihadapan mereka 3.500 hingga 5.000 ribuan pasukan bersenjata.
Hari demi hari berlalu, pasokan air diputus yang membuat anak-anak kehausan sampai tangisan terdengar dari tenda-tenda keluarga Nabi.
Salah satu kisah paling menyayat hati adalah Ali Asghar, seorang bayi yang kehausan di tengah gurun. Saat Sayyidina Hussein mengangkatnya dan memohon seteguk air, sebuah panah melesat mengenai leher sang bayi.
Bayangkan, betapa beratnya menjadi sorang ayah yang melihat anaknya pergi di depan mata, sementara dirinya tidak mampu berbuat apa-apa. Karbala bukan hanya tragedi peperangan. Karbala adalah tragedi kemanusiaan.
Pada 10 Muharram, satu demi satu keluarga dan sahabat Sayyidina Husein gugur hingga akhirnya Sayyidina Husein berdiri hampir seorang diri, beliau tahu peluang menang nyaris tidak ada tapi tetap bertahan karena baginya kebenaran tidak selalu diukur dari jumlah pengikut dan kehormatan tidak selalu diukur dari kemenangan dunia.
“Janganlah kamu mengira orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, Mereka hidup di sisi Tuhannya dan mendapat rezeki”. (QS Ali Imran : 169)
Dari Karbala kita belajar, tidak semua kekalahan adalah kehinaan dan tidak semua kemenangan adalah kemuliaan.
Hikmah terbesar Karbala bukan untuk menghidupkan permusuhan lama dan mencaci generasi terdahulu tapi untuk mengingatkan kita bahwa : diam terhadap kezaliman memiliki harga dan mempertahankan kebenaran juga memiliki harga, Sayyidina Husein telah membayar harga itu dengan darahnya. Beliau mengajarkan kita untuk tidak tunduk pada kezaliman.
Hari ini, pertanyaannya untuk kita, jika berada di posisi Sayyidina Husein, apakah kita berani mempertahankan kebenaran ketika semua orang memilih diam?
( Disarikan dari berbagai sumber)














