banner 728x250

“The Real ‘Eropa di Jantung Jawa’: Dieng Membeku -5°C, Rumput Berubah Jadi Kristal Es!”

Suhu mencapai – 5°C rumput di kawasan obyek wisata Dieng berubah menjadi es. ( Foto : FB Rayhan Af )

WONOSOBO, OMNI PUBLIKA – Pagi ini, Kamis, 9 Juli 2026, Dataran Tinggi Dieng tidak hanya sekadar dingin—ia membeku.

Bagi Anda yang terbiasa dengan iklim tropis, bayangkan terbangun di pagi hari dan menemukan hamparan rumput hijau telah berubah menjadi karpet kristal putih yang berkilauan. Semburan napas Anda langsung berubah menjadi asap tebal, dan sisa air di dedaunan menjelma menjadi butiran es yang keras.

Inilah realitas magis sekaligus ekstrem yang sedang melanda kawasan Banjarnegara, Jawa Tengah, di mana suhu udara dilaporkan merosot tajam hingga menyentuh angka -5 derajat Celsius.

Sensasi “Salju” yang Membius Wisatawan

Fenomena yang dikenal masyarakat lokal sebagai embun upas ini bukanlah yang pertama di musim kemarau tahun ini, melainkan puncak dari rentetan hari-hari dingin sebelumnya. Namun, pagi ini adalah yang paling masif. Dieng seolah dikepung oleh es.

Lanskap ikonik Dieng berubah total

Lapangan luas di sekitar candi dan Bukit Pangonan memutih sempurna, menyajikan pemandangan magis layaknya musim dingin di Eropa.

Jangan kaget jika melihat mobil-mobil wisatawan yang diparkir di luar ruangan mendadak diselimuti lapisan es tebal di bagian kap dan kaca depannya.

Rerumputan dan ranting pohon tampak membeku kaku, membungkus setiap helai daun dalam struktur es bening yang estetik namun dingin mencekam.

Rahasia di Balik “Kutukan” Embun Upas

Mengapa dataran tinggi ini bisa sebegini dinginnya?Masyarakat Jawa mengenal periode ini sebagai musim bediding sebuah transisi di mana siang hari terasa terik, namun malam hari berubah menjadi super dingin. Secara ilmiah, BMKG menjelaskan bahwa langit yang bersih tanpa awan (clear sky) di puncak musim kemarau membuat panas bumi lepas ke atmosfer tanpa hambatan pada malam hari. Ditambah kelembapan yang sangat kering, suhu di permukaan tanah pun terjun bebas hingga di bawah titik beku sebelum fajar menyingsing.

Bagi petani lokal, embun ini disebut “upas” (racun) karena sifat esnya yang bisa membuat tanaman kentang layu dan mati dalam semalam. Namun bagi dunia pariwisata, ini adalah berkah magnetik yang menarik ribuan pemburu kabut dan pemburu es.

Tertantang ke Sana? Ini “Protokol” Bertahan Hidup yang Wajib Anda Tahu!

Menikmati keindahan magis Dieng yang membeku membutuhkan persiapan fisik yang tidak main-main. Suhu di bawah nol derajat sangat rawan memicu hipotermia bagi tubuh yang terbiasa dengan hawa tropis.

Jika Anda berencana melakukan hunting foto embun upas besok pagi, pastikan Anda siap dengan “tempur” dengan aturan berikut:

🧥 Gunakan Sistem Layering: Jangan hanya mengandalkan satu jaket. Kenakan pakaian berlapis, mulai dari thermal underwear, baju hangat, hingga ditutup dengan jaket tebal atau winter coat.

🧦 Proteksi Total: Jangan biarkan kulit bersentuhan langsung dengan udara pagi. Wajib gunakan kupluk yang menutupi telinga, sarung tangan tebal, masker, dan kaus kaki ganda.

☕ Jaga Hidrasi internal: Pastikan tubuh Anda dalam kondisi prima. Perbanyak minum air atau minuman hangat untuk menjaga suhu tubuh dari dalam.

Fenomena Dieng membeku ini diprediksi masih akan terus memanjakan (dan menguji nyali) para wisatawan dalam beberapa hari ke depan selama angin monsun Australia yang kering masih bertiup kuat. Siapkan jaket tertebal Anda, dan selamat menikmati musim dingin ala Indonesia!

Penulis: Lastri MeyditaEditor: Omni Publika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *