banner 728x250

Fenomena Bediding Melanda Gunungkidul: Suhu Tembus 19,3 Derajat Celsius, Dinkes Imbau Waspadai Penyakit Musiman

Fenomena Bediding di Gunungkidul saat memasuki puncak musim kemarau. ( Foto : Tangkapan Layar Laman FB Yogyakarta )

GUNUNGKIDUL, OMNI PUBLIKA – Fenomena bediding yang membuat suhu udara di wilayah Kabupaten Gunungkidul terasa jauh lebih dingin dari biasanya mulai menjadi perhatian serius. Menanggapi perubahan cuaca yang cukup drastis ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi munculnya berbagai penyakit musiman, terutama batuk dan pilek.

Dalam beberapa hari terakhir, Stasiun Meteorologi Yogyakarta mencatat suhu udara terendah di Gunungkidul menyentuh angka 19,3 derajat Celsius. Penurunan suhu yang signifikan ini menjadi penanda kuat bahwa puncak musim kemarau mulai mendekat, ditandai dengan udara malam hingga dini hari yang terasa menusuk tulang.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Dinkes Gunungkidul, Wanda Abrar, menjelaskan bahwa fenomena bediding merupakan kondisi alamiah yang lazim terjadi hampir setiap tahun saat musim kemarau berlangsung.

“Sebenarnya ini fenomena normal karena hampir terjadi setiap tahun,” kata Wanda, Rabu (1/7/2026).

Ancaman Kesehatan di Balik Cuaca Dingin

Meski tergolong siklus tahunan yang biasa, Wanda mengingatkan agar masyarakat tidak menganggap remeh dampaknya terhadap kesehatan. Perubahan suhu yang dingin secara mendadak dapat menurunkan imunitas atau daya tahan tubuh, sehingga tubuh menjadi lebih rentan terserang penyakit.

Selain batuk dan pilek yang menjadi keluhan paling dominan, hawa dingin akibat bediding ini juga berisiko memicu kambuhnya sejumlah penyakit penyerta (komorbid), seperti asma, alergi kulit, hingga rematik bagi masyarakat yang memiliki riwayat medis tersebut.

“Kondisi tubuh harus benar-benar dijaga karena hawa dingin ini bisa menurunkan daya tahan,” tegasnya.

Tips Menjaga Kesehatan Selama Fenomena Bediding

Untuk mengantisipasi dampak buruk cuaca ekstrem ini, Dinkes Gunungkidul membagikan beberapa langkah pencegahan praktis yang dapat diterapkan oleh masyarakat antara lain :

1. Menjaga Kehangatan Tubuh 

Masyarakat disarankan mengenakan pakaian yang lebih hangat dan tebal, terutama saat beraktivitas di luar ruangan pada malam hingga pagi hari. Penggunaan jaket, pakaian berlapis, serta selimut saat tidur sangat membantu menjaga stabilitas suhu tubuh.

2. Menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

Mengonsumsi makanan bergizi, menjaga kebersihan lingkungan rumah, serta membiasakan diri mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah beraktivitas.

3. Mengonsumsi Asupan Hangat

Mengimbangi menu harian dengan makanan dan minuman bergizi yang disajikan hangat untuk membantu menghangatkan tubuh dari dalam.

4. Olahraga Rutin dan Istirahat Cukup

Tetap aktif bergerak dengan olahraga ringan secara teratur demi menjaga kebugaran, serta memastikan waktu tidur yang cukup agar proses pemulihan sistem kekebalan tubuh berjalan optimal.

Waspadai Risiko Dehidrasi dan Kulit Kering

Wanda juga menambahkan, fenomena bediding kerap membuat seseorang lebih sering buang air kecil. Kondisi ini terjadi karena respons alami tubuh dalam mengatur cairan saat terpapar suhu dingin.

Meski terkesan sepele, frekuensi buang air kecil yang meningkat harus diimbangi dengan konsumsi air putih yang cukup agar tidak memicu dehidrasi.

“Tidak boleh sampai dehidrasi karena bisa menurunkan fokus, kepala pusing, mudah lelah hingga risiko infeksi saluran kencing juga lebih besar. Makanya, saat sering buang air kecil, harus diimbangi dengan minum cukup air,” tambah Wanda.

Senada dengan hal tersebut, Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi Yogyakarta, Muhammad Nur Hadi, membenarkan bahwa penurunan suhu di Gunungkidul hingga 19,3 derajat Celsius ini merupakan karakteristik utama saat Daerah Istimewa Yogyakarta memasuki puncak musim kemarau.

Selain mengimbau masyarakat untuk memakai pakaian tebal, Nur Hadi juga mengingatkan adanya potensi dampak dari cuaca yang cenderung lebih kering. “Selain batuk dan pilek, cuaca yang lebih kering juga berpotensi menimbulkan keluhan seperti kulit kering dan bibir pecah-pecah apabila tidak diantisipasi sejak dini,” pungkasnya.

Masyarakat diharapkan tetap memperbarui informasi prakiraan cuaca setempat dan segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat apabila mengalami gejala sakit yang berlanjut.

Penulis: Lastri MeyditaEditor: Omni publika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *