banner 728x250

Jangan Panik! Ini Kata BRIN Soal Misteri Cahaya Hijau dan Dentuman di Langit Jogja

Kilatan Cahaya yang melintas di langit pulau Jawa dan menghebohkan warga ( Foto : Reel Cakti Ronggo )

Masyarakat di Yogyakarta dan sejumlah wilayah di Pulau Jawa sempat dihebohkan oleh penampakan kilatan cahaya berwarna hijau terang yang melintasi langit pada Sabtu (11/7/2026) malam.

Menanggapi fenomena langka tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama pakar astronomi memberikan penjelasan ilmiah agar masyarakat tidak panik.

Pakar Astronomi BRIN, Thomas Djamaluddin, memastikan bahwa kilatan cahaya hijau tersebut merupakan meteor berukuran besar yang masuk ke atmosfer Bumi.

Kronologi Melintasnya Meteor

Berdasarkan data astronomi, pergerakan meteor ini terpantau cukup luas di sepanjang Pulau Jawa sebelum akhirnya hilang:

Dimulai dari atas Laut Jawa pada pukul 21.22 WIB. Meteor bergerak cepat ke arah tenggara. Kilatan cahaya terlihat jelas di Bekasi, Majalengka, Nagreg, Tasikmalaya, hingga melintasi Yogyakarta pada pukul 21.23.57 WIB.

Meteor tersebut diduga kuat jatuh di Samudra Hindia, tepatnya di sebelah selatan Jawa Timur atau Bali.

Mengapa Berwarna Hijau dan Mengeluarkan Suara Dentuman?

Ada dua analisis ilmiah menarik dari para pakar mengenai karakteristik meteor yang menghebohkan ini:

Menurut Pakar Thomas Djamaluddin (BRIN) Cahaya Hijau Terang Muncul akibat adanya unsur magnesium pada batuan antariksa yang terbakar hebat saat bergesekan dengan atmosfer Bumi pada ketinggian sekitar 120 kilometer.

Menurut Marufin Sudibyo (Astronom Amatir) Fenomena Bolide & Dentuman Menjelaskan bahwa ini adalah bolide (meteor superterang yang disertai fragmentasi).

Warna hijau juga bisa dipicu kandungan nikel. Sementara suara dentuman berasal dari gelombang kejut (shockwave) saat meteor melaju dengan kecepatan supersonik.

Berdasarkan analisis awal, meteoroid ini diperkirakan memiliki diameter sekitar 1 meter dan berasal dari pecahan asteroid dekat-Bumi kelas Apollo.

Untungnya, batuan antariksa ini sudah hancur lebur di atmosfer pada ketinggian sekitar 46–48 kilometer, sehingga tidak sampai menghantam permukaan Bumi.

Murni Fenomena Alam, Bukan Pertanda Bencana!

Di media sosial, sempat beredar spekulasi dan asumsi mistis yang mengaitkan fenomena meteor hijau ini sebagai pertanda datangnya bencana alam atau musibah.

Namun, pakar astronomi dengan tegas membantah hal tersebut. Peristiwa meteor jatuh adalah fenomena alam biasa yang rutin terjadi dan sama sekali tidak memiliki hubungan dengan aktivitas seismik atau bencana alam di Bumi.

Penulis: Lastri MeyditaEditor: Omni Publika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *