WONOSOBO, OMNI PUBLIKA – Sabtu pagi, 29 Agustus 2026, suasana mistis nan khidmat menyelimuti kawasan pelataran Candi Arjuna. Di tengah hawa dingin khas dataran tinggi Dieng, ribuan pasang mata wisatawan berkumpul untuk menyaksikan jiwa dan pilar utama dari perhelatan Dieng Culture Festival (DCF) 2026 yaitu Upacara Ritual Cukur Rambut Anak Gimbal.
Ritual budaya tahunan ini bukan sekadar pemotongan rambut biasa, melainkan tradisi turun-temurun masyarakat asli Dieng yang penuh makna spiritual, simbol kesucian, dan permohonan keselamatan.
Kirab Budaya dan Permohonan Unik Sang Anak
Prosesi diawali dengan Kirab Budaya yang megah. Anak-anak berambut gimbal yang dipercaya sebagai anak titipan Kyai Kolodete (sosok leluhur pembuka lahan Dieng) diarak menuju Kompleks Candi Arjuna. Didampingi oleh orang tua dan para tetua adat yang mengenakan pakaian tradisional Jawa lengkap, anak-anak ini diayomi oleh payung agung berwarna keemasan.
Sebelum pemotongan rambut dilakukan, ada syarat unik yang wajib dipenuhi keinginan sang anak harus dituruti tanpa terkecuali. Permintaan anak-anak ini bervariasi dan sering kali menggelitik, mulai dari sepeda, kambing, hingga jajanan atau mainan sederhana. Masyarakat setempat meyakini jika permintaan tersebut tidak dipenuhi, rambut gimbal akan tumbuh kembali walaupun sudah dipotong.
Khidmatnya Pemotongan dan Pelarungan Rambut
Di atas panggung utama bernuansa latar belakang candi batu kuno, prosesi pencukuran dimulai sekitar pukul 09.00 WIB. Didampingi sesepuh adat berpakaian adat khas busana beskap dan blangkon, satu per satu anak duduk anggun beralaskan kain mori dan batik.
Dengan kelembutan dan doa-doa keselamatan yang dipanjatkan, pemangkasan helaian demi helaian rambut gimbal dilakukan. Suasana haru tak jarang menyeruak di antara kerumunan penonton ketika prosesi berlangsung. Pencukuran ini menjadi simbol pembersihan diri dari kesialan (ruwatan), agar sang anak dapat tumbuh sehat, normal, dan dilindungi oleh Sang Pencipta.
Setelah prosesi pemotongan selesai, potongan rambut gimbal tersebut dibungkus rapi untuk kemudian dilarung ke Telaga Warna atau sumber air keramat setempat, melambangkan pengembalian titipan kepada alam dan para leluhur.
Menjaga Warisan Leluhur di Era Modern
Upacara Ruwatan Rambut Gimbal pada DCF 2026 membuktikan bahwa di tengah gempuran modernisasi dan kemeriahan konser musik malam harinya, akar tradisi dan nilai spiritualitas masyarakat Dieng tetap terjaga dengan lestari.
Bagi para pengunjung yang hadir Sabtu siang itu, menyaksikan raut wajah polos anak-anak gimbal dan khusyuknya tetua adat memberikan pengalaman spiritual dan budaya yang sangat mendalam sebuah pengingat akan indahnya kearifan lokal Nusantara di Negeri di Atas Awan.












