banner 728x250

Muharram Bulan Yang Mulia : Makna, Keutamaan dan Amalan Sunnah serta Larangan Yang Perlu Dihindari

Drs. H. Iman Suparman

BANDUNG, OMNI PUBLIKA – Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut bulan Muharram dengan panggilan khusus, yaitu “Syahrullah”, Bulan Allah.

Dalam hadits riwayat Muslim, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَفْضَلُ الصَّيَامِ، بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللَّهِ الَّذِي تَدْعُونَهُ الْمُحَرَّمَ

“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah yang kalian sebut Muharram.” (HR. Muslim (1163), Ibnu Majah (1742)

Disebut “Bulan Allah” menunjukkan kehormatan dan keistimewaan yang luar biasa, karena Allah tidak menisbatkan sesuatu kepada diri-Nya kecuali hal yang mulia dan agung.

Oleh sebab itu, memperbanyak puasa dan amal saleh di bulan ini sangat dianjurkan. Di antara hari yang paling mulia dalam bulan Muharram adalah hari Asyura, yaitu tanggal 10 Muharram. Hari tersebut memiliki kedudukan istimewa dalam syariat. Dalam hadits shahih disebutkan,

وَصِيَامُ يَوْمٍ عَاشُورَاءَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ»

“Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun sebelumnya.” (HR. Muslim)

Betapa besar karunia Allah, hanya dengan satu hari berpuasa, Allah menghapus dosa-dosa kecil selama setahun. Ini adalah keutamaan yang agung, namun sayangnya sering dilalaikan oleh banyak orang.

Asal-muasal puasa Asyura bermula saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah dan mendapati kaum Yahudi berpuasa pada hari tersebut. Ketika ditanya, mereka menjawab bahwa itu adalah hari di mana Allah Subhanahu wa ta’ala menyelamatkan Nabi Musa ‘alaihi sallam dan Bani Israil dari kejaran Fir’aun.

Maka Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ»

“Maka kami lebih berhak dan lebih utama terhadap Musa daripada kalian.” Maka Rasulullah pun berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Untuk menyelisihi kebiasaan Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10 saja, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan niatnya untuk puasa tanggal 9 juga.

Dalam hadits disebutkan:

لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلِ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ»

“Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan (Muharram).” (HR. Muslim)

Namun Rasulullah wafat sebelum tahun berikutnya tiba. Maka berdasarkan hadits ini, puasa Asyura yang paling utama adalah dilakukan dua hari: tanggal 9 dan 10, atau ditambah lagi tanggal 11 agar lebih sempurna.

Sayangnya, masih ada keyakinan dan praktik yang salah di bulan Muharram. Sebagian masyarakat menganggap bulan ini adalah bulan sial, sehingga menghindari pernikahan, pindah rumah, atau bepergian jauh.

Bahkan sebagian kelompok menjadikan hari Asyura sebagai hari duka, dengan ritual menyiksa diri, menangis berlebihan, dan memperingati kematian cucu Nabi, Al-Husain radhiallahu’anhu dengan cara yang tidak disyariatkan seperti yang dilakukan orang-orang syiah yang menyimpang.

Semua ini tidak pernah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun para sahabatnya. Tidak ada satupun hadits shahih yang menyebutkan larangan menikah atau beraktivitas di bulan Muharram. Tidak pula ada perintah untuk menjadikan Asyura sebagai hari duka.

Bahkan sebaliknya, hari Asyura adalah hari kemenangan dan rahmat, sebagaimana diselamatkannya Nabi Musa ‘alaihi sallam dan Bani Israil dari kezaliman Fir’aun.

Maka yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bersyukur kepada Allah dengan berpuasa, bukan berduka atau membuat acara-acara tertentu yang tidak berdasar.

Apa Hikmah  Menambah Puasa Pada Hari Ke-Sembilan Dibulan Muharram..?

Sebagian ulama mengatakan bahwa sebab Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bepuasa pada hari kesepuluh sekaligus kesembilan agar tidak tasyabbuh (menyerupai) orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja.

Dalam hadits Ibnu Abbas juga terdapat isyarat mengenai hal ini. Ada juga yang mengatakan bahwa hal ini untuk kehati-hatian, siapa tahu salah dalam penentuan hari ’Asyura’ (tanggal 10 Muharram).

Pendapat yang menyatakan bahwa Nabi menambah hari kesembilan agar tidak menyerupai puasa Yahudi adalah pendapat yang lebih kuat. Wallahu a’lam. (Lihat Syarh Muslim, 8: 12-13)

Sebagaimana penjelasan dari Syaikh Ibrahim Ar Ruhaili, kita lebih baik berpuasa dua hari sekaligus yaitu pada tanggal 9 dan 10 Muharram karena dalam melakukan puasa ‘Asyura ada dua tingkatan yaitu:

  1. Tingkatan yang lebih sempurna adalah berpuasa pada 9 dan 10 Muharram sekaligus.
  2. Tingkatan di bawahnya adalah berpuasa pada 10 Muharram saja. (Lihat Tajridul Ittiba’, hal. 128)

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam berkata, Yang lebih afdhol adalah berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh dari bulan Muharram karena mengingat hadits (Ibnu ‘Abbas), “Apabila aku masih diberi kehidupan tahun depan, aku akan berpuasa pada hari kesembilan.” Jika ada yang berpuasa pada hari kesepuluh dan kesebelas atau berpuasa tiga hari sekaligus (9, 10 dan 11) maka itu semua baik. Semua ini dengan maksud untuk menyelisihi Yahudi.” (Lihat Fatwa Syaikh Ibnu Baz di sini)

Bagi kaum muslim yang hendak melaksanakan ibadah puasa sunnah di bulan Muharram, berikut jadual puasa Sunnah tahun baru Islam ( 1448 H ) / 2026 M :

  • Rabu, Puasa Tasu’a 24 Juni 2026 (9 Muharram)
  • Kamis, Puasa Asyura 25 Juni 2026(10 Muharram)

Puasa Ayyamul Bidh (13, 14, 15 Muharam)

  • Ahad, 28 Juni (13 Muharam)
  • Senin, 29 Juni (14 Muharam)
  • Selasa, 30 Juni (15 Muharam)

Semoga Allah memudahkan kita untuk terus beramal sholih

Wallahu a’lam bishawab 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *