MAGELANG, OMNI PUBLIKA – Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) BEM Fakultas Ekonomi Universitas Tidar (UNTIDAR) menggelar kegiatan Sosialisasi dan Pelatihan Budidaya Maggot di Dusun Kudusan, Desa Tirto, Kecamatan Grabag, Magelang pada Minggu (23/8/2026). Langkah ini dihadirkan sebagai solusi mengolah sampah organik rumah tangga serta limbah kopi dan aren menjadi produk berdaya guna dan bernilai ekonomi.
Di Desa Tirto Kecamatan Grabag, Magelang tepatnya di dusun Kudusan terdapat potensi lokal limbah organik yang berlimpah, namun kerap memicu masalah lingkungan jika dibiarkan. Melalui pelatihan ini, mahasiswa UNTIDAR mengajak masyarakat mengolah limbah tersebut menjadi pakan larva lalat Black Soldier Fly (BSF) yang mempunyai nilai jual.
Maggot BSF adalah larva (ulat) dari jenis lalat Black Soldier Fly (BSF) atau Lalat Tentara Hitam (nama ilmiah: Hermetia illucens).
Berbeda dengan lalat hijau atau lalat rumah yang menjadi sumber penyakit, lalat BSF dan maggotnya sangat menguntungkan bagi lingkungan dan memiliki nilai ekonomi tinggi.

Keunggulan dan Manfaat Maggot BSF:
- Pengurai Sampah Organik Handal: Maggot BSF mampu mengonsumsi berbagai jenis limbah organik (sisa makanan, buah busuk, hingga ampas kopi/aren) dalam jumlah besar dan waktu yang sangat cepat.
- Kaya Nutrisi (Pakan Ternak Tinggi Protein): Tubuh maggot mengandung sekitar 40–50% protein kasar dan lemak tinggi, sehingga sangat ideal dijadikan pakan alternatif untuk ikan, unggas (ayam/bebek), dan hewan peliharaan.
- Bersih dan Bersifat Antibakteri: Maggot BSF menghasilkan zat alami yang dapat menekan pertumbuhan bakteri jahat (seperti Salmonella dan coli) pada media tempat hidupnya.
- Lalat Dewasa Tidak Menggigit/Membawa Penyakit: Lalat BSF dewasa tidak memiliki mulut untuk menggigit, tidak menyebarkan kuman ke makanan manusia, dan hidupnya singkat hanya untuk berkembang biak.
- Menghasilkan Pupuk Kasgot: Sisa kotoran dan media bekas pemeliharaan maggot (kasgot) dapat langsung dimanfaatkan sebagai pupuk organik kaya nutrisi untuk tanaman.
Kepala Dusun Kudusan, Khoirun Nasirin, menyambut hangat inisiatif pemberdayaan ini. Menurutnya, pelatihan tersebut memberikan dorongan ekonomi baru bagi warga setempat.
“Kegiatan ini menjadi ilmu baru, karena dalam prosesnya sederhana dan mudah diterima masyarakat, apalagi ada peluang ekonomi. Saya yakin ini menjadi peluang yang bagus untuk masyarakat Dusun Kudusan, Desa Tirto,” ujar Khoirun.

Perwakilan Tim PPK Ormawa BEM FE UNTIDAR, Ajeng, menjelaskan bahwa budidaya maggot sangat ramah untuk dilakukan pada tingkat rumah tangga. Ia membagikan kiat praktis dalam meminimalisir aroma tidak sedap saat pemeliharaan.
“Budidaya maggot ini memang cocok dibuat skala rumahan. Cara mengatasi baunya bisa memanfaatkan ampas kopi supaya bau busuk tidak menyengat. Selain itu, pakan maggot juga memengaruhi, jika limbah busuk maka bau akan menyengat, tetapi jika bahan sisa masih belum membusuk, itu akan meminimalisir bau,” jelas Ajeng.
Edukasi yang diberikan langsung menjawab kendala yang selama ini dihadapi warga. Amat, salah satu peserta pelatihan menyampaikan bahwa materi pelatihan memberikan pemahaman baru terkait pengolahan limbah yang benar.
“Saya sudah pernah mencoba tapi tidak bisa mengelolanya. Dari adanya sosialisasi dan pelatihan ini, saya jadi mengerti bagaimana pengolahan limbah yang baik dan terkonsep,” kata Amat.
Antusiasme warga terlihat dari tingginya permintaan pendampingan mandiri di rumah masing-masing. Mendorong keberlanjutan program, Tim PPK Ormawa BEM FE UNTIDAR membagikan bahan budidaya secara gratis sebagai modal awal bagi warga untuk memulai praktik mandiri dan mengubah sampah organik menjadi sumber pendapatan.
Sumber : Dimas Alfareza ( Ketua Tim PPK Ormawa BEM FE Untidar )














