BANDUNG, OMNI PUBLIKA – Cerdasnya orang yg beriman adalah; ketika mampu mengolah hidupnya yg sesaat dan yang sekejap untuk kehidupan yang panjang.
“Hidup bukan untuk hidup, tetapi hidup untuk Yg Maha Hidup. Hidup bukan untuk mati, tapi mati itulah untuk hidup”
Bukan sekedar slogan hidup semata tanpa implementasi di kehidupan nyata. Jangan takut untuk hidup dan janganlah pula kita takut mati, jangan mencari mati, jangan lupakan mati, tapi rindukan mati. Karena, mati adalah pintu gerbang berjumpa dengan Sang Pencipta Allah SWT.
Dalam menjalani kehidupan, tentu tidak semudah membalik telapak tangan. banyak ujian dan tantangan yang senantiasa datang bak gelombang yang terus menerus datang. Hal ini tentunya sejalan dengan Firman Allah :
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka benarlah Allah yang mengetahui orang-orang yang sungsung ikhlas dan benar serta mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut: 2-3)
Ayat ini mengingatkan umat Muslim bahwa iman mereka akan diuji oleh Allah. Ujian dan cobaan merupakan cara Allah untuk menguji sejauh mana ketulusan dan keikhlasan iman seseorang. Mereka yang bersikap ikhlas dalam menghadapi ujian akan mendapatkan keberkahan dan pahala dari Allah.
Allah menegaskan lagi dalam ayat lainnya sebagai bentuk peringatan akan kekuasaan-Nya sekaligus diringi sifat Maha Pemaaf-Nya yang menjadi dasar kekuasaan mutlak diri-Nya atas seluruh umat manusia dalam firman-Nya :
“Yang menjadikan mati dan hidup agar Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)
Ayat ini mengajarkan kepada umat Muslim bahwa Allah menguji manusia dengan hidup dan mati sebagai sarana untuk menguji siapa di antara hamba-Nya yang lebih baik amalnya. Dengan menjaga amal dan taqwa kepada Allah, kita akan mendapatkan keberkahan dan pahala dari-Nya.
Ketika pondasi iman sudah kuat dan yakin akan kekuasaan dan pengampunan Allah SWT untuk hamba-Nya, tidaklah menjadi masalah menakutkan lagi ketika dalam menyambut hari kematian tersebut, pun tentunya dengan segala persiapan bekal berupa amal shalih yang dilandasi dengan keimanan dan ketaqwaan. Disamping menjalankan yang hukumnya wajib, dibawah ini contoh amalan-amalan sunnah yang hendaknya tak lupa kita amalkan dalam keseharian kehidupan kita, seperti sebagai berikut :
- Pertama : Tahajjud karena kemuliaan seorang mukmin terletak pada tahajjudnya
- Kedua : Membaca Al-Qur’an sebelum terbit matahari. Alangkah baiknya sebelum mata melihat dunia, sebaiknya mata membaca Al-Qur’an terlebih dahulu dengan penuh pemahaman.
- Ketiga : Jangan tinggalkan masjid terutama di waktu subuh. Sebelum melangkah kemana pun langkahkan kaki ke masjid, karena masjid merupakan pusat keberkahan, bukan karena panggilan muadzin tetapi panggilan Allah yg memanggil orang beriman untuk memakmurkan masjid Allah
- Keempat : Jaga Shalat Dhuha karena kunci rezeki terletak pada shalat dhuha.
- Kelima : Jaga sedekah setiap hari. Allah menyukai orang yg suka bersedekah, dan malaikat Allah selalu mendoakan, kepada orang yg bersedekah setiap hari.
- Keenam : Jaga wudhu terus menerus karena Allah menyayangi hamba yg berwudhu. Khalifah Ali bin Abi Thalib berkata, “Orang yg selalu berwudhu senantiasa ia akan merasa selalu shalat walau ia sedang tidak shalat, dan dijaga oleh malaikat dengan dua doa, “ampuni dosa dan sayangi dia Ya Allah”.
- Ketujuh : Amalkan istighfar setiap saat. Dengan istighfar masalah yg terjadi karena dosa kita akan dijauhkan oleh Allah.
Tak lupa dalam setiap sujud kita jangan lupakan tiga do’a sebagai berikut :
- Mintalah diwafatkan dalam keadaan husnul khotimah :“Allahumma inni as’aluka husnal khotimah” Artinya : Ya Allah aku meminta kepada-MU husnul khotimah.
- Mintalah agar kita diberikan kesempatan Taubat sebelum wafat : “Allahummarzuqni taubatan nasuha qoblal maut” Artinya : Ya Allah berilah aku rezeki taubat nasuha (atau sebenar-benarnya taubat sebelum wafat.
- Mintalah agar hati kita ditetapkan di atas Agamanya : “Allahumma yaa muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘ala diinika” Artinya : Ya Allah wahai sang pembolak balik hati, tetapkanlah hatiku pada agama-MU.
Hidup manusia hanya sekali di dunia, dan akan hidup selamanya di akhirat setelah melewati pase kematian. Manusia akan dibangkitkan lagi menuju kepada hidup yang sesungguhnya yakni kehidupan akhirat. Maka pertanyaannya, apakah kita akan bahagia di akhirat, jawabannya sangat tergantung pada perbuatan kita di dunia ini. Maka perbanyaklah kebaikan, baik kebaikan kepada Allah maupun kepada sesama manusia.
Dua pilar vertikal dan horizontal yakni ḥablum minallah (hubungan terhadap Allah) dan ḥablum mina al-Nas (hubungan sesama manusia) yang harus dijadikan pegangan utama dalam menjalani hidup dan kehidupan.
Allah memberikan solusi terbaik bagi manusia yang beriman, sebagaimana tersebut dalam surat al-Qashash ayat 77:
“Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash 28: 77).
Solusi yang disampaikan dalam ayat tersebut merupakan solusi Ilahi untuk menyeimbangkan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi agar berjalan sesuai kehendak dan Ridha-Nya. Allah menghendaki manusia berbuat baik dan tidak menghendaki berbuat kerusakan. Hidup di dunia hanya sebentar dan harus dimanfaatkan secara maksimal. Memaksimalkan mencari harta dunia dengan sungguh-sungguh demi memaksimalkan ibadah dengan Ikhlas karena Allah.
Ibadah yang dijalankan harus sesuai tata aturan yang benar untuk mendapat kebahagian hakiki yakni kehidupan akhirat. Karena itu, gembira dan bahagia tidak dapat ditentukan dengan banyaknya harta, namun hidup bahagia hanya bisa diukur dan ditentukan dengan kekayaan hati, ketenangan dan kenyamanan dalam melakukan aktivitas tanpa bersandar kepada harta dunia. Allah akan memanggil dan menyambut manusia yang memiliki jiwa dan hati yang suci untuk masuk ke dalam surga-Nya.
Inilah esensi makna hidup sesungguhnya yaitu : menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran akan tujuan penciptaan, yaitu untuk beribadah kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama. Dengan memahami makna ini, seorang Muslim dapat menjalani hidup yang lebih bermakna dan diridhai oleh Allah, serta mempersiapkan diri untuk kehidupan yang abadi di akhirat.
wallahu alam bishawab














