banner 728x250

Arih Nafsaka! … Istirahatkan Dirimu!, Seni Mengolah Hati dalam Urusan Duniawi ala Athailah as-Sakandari

Ilustrasi : kalimat inti dari sebuah perenungan mendalam sang ulama hikmah - Ibnu Atthaillah as-Sakandari

BANDUNG, OMNI PUBLIKA – Ada masa ketika engkau merencanakan segalanya, berjuang sekuat tenaga, lalu semua tetap berantakan. Bukan karena kamu kurang usaha, tapi karena ada bagian hidup yang sejak awal memang tidak pernah menjadi milikmu untuk diatur.

Ibnu Athaillah as-Sakandari hidup di abad ketiga belas, dikenal sebagai salah satu sufi besar dalam tarekat Syadzilillyah dan penulis kitab Al-Hikam. Dalam kitab At-Tanwir fi Isqath at-Tadbir, beliau menjabarkan perenungan panjang tentang batas antara usaha manusia dan ketetapan yang sudah Allah atur sejak awal.

Ada satu kalimat yang menjadi inti seluruh isi kitab ini. “istirahatkan dirimu dari kesibukan mengurusi dunia, sebab apa yang telah Allah atur tidak perlu kau sibuk ikut mencampurinya”. Bukan ajakan untuk berhenti berusaha, melainkan ajakan untuk berhenti memaksa hasil sesuai kehendak kita sendiri.

Tentang rezeki, Ibnu Athaillah bertanya : mengapa Allah tidak langsung memberi tanpa perlu dicari? Jawabannya, ruang untuk berikhtiar itu sendiri adalah bentuk kasih sayang, bukan ujian semata. Namun hasil akhirnya sudah pasti, seperti ajal yang akan datang pada waktunya, tanpa bisa diajukan atau ditunda.

Kita sering mencemaskan rezeki, jodoh, keturunan, dan berbagai persoalan hidup yang belum terjadi. Padahal menurut Ibnu Atthaillah, semua itu telah memiliki ketetapannya sendiri, sama pastinya dengan ajal.

Tarekat Syadzilliyah yang dianut ibnu Atthaillah tidak mengajarkan untuk memilih hidup miskin atau menjauh dari dunia. ia mengajarkan cara berada di tengah dunia tanpa menjadikan dunia sebagai pusat hati, tetap bekerja, tetap merencanakan, namun tidak lagi menaruh kecemasan pada hasil yang bukan miliknya untuk ditentukan.

Pada akhirnya ini bukan tentang berhenti berusaha, melainkan tentang mengembalikan porsi. Porsi untuk ikhtiar dijalani, porsi hasil akhir untuk diserahkan. Ketika porsi itu kembali pada tempatnya, kelelahan karena mengurus dunia yang bukan milik kita perlahan mereda, dan yang tersisa hanyalah ketenangan.

Arif nafsaka! Istirahatkan dirimu…apa yang sudah Allah atur, tidak perlu kau ikut campur. Terlebih meragukan keberlangsungan pengaturan-Nya (tadbir).

Sebagai makhluk, tentu kita tetap perlu berusaha (ikhtiar), Tapi kita tidak perlu cemas, apalagi sampai lupa diri bahwa jika bukan karena usaha kita, sesuatu tidak akan terwujud atau suatu persoalan tidak bisa terselesaikan.

Kecemasa kita adalah sesuatu yang wajar, tapi jika berlebihan itu bisa menjadi sikap tidak sopan (suul adab) kepada-Nya, seakan kita menafikan keberadaan Allah yang Maha Kuasa dan Pengatur segalanya.

Bersabarlah…Allah tidak tidur, semua telah Dia atur.

 

Editor: Moh. Subhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *