banner 728x250

Hati Yang Sulit Dinasihati, Hati Yang Terkunci : Begini Al Qur’an Menjelaskannya

BANDUNG, OMNI PUBLIKA – Mungkin kamu merasa mengapa orang yang kamu nasihati tidak berubah karena nasihatmu kurang keras, akan tetapi Qur’an bilang bukan itu masalahnya.

Ada momen di mana menasihati seseorang terasa lebih melelahkan dari mengerjakan semuanya sendiri. Kamu sudah pakai kata-kata yang hati-hati. sudah sabar menunggu momen yang pas. Tapi tidak ada yang berubah, dan pelan-pelan, yang kamu rasakan bukan lagi peduli, tapi capek.

Kemudian jadi kesal dan bertanya-tanya, ” apa aku yang kurang usaha, atau memang dia yang tidak mau?”.

Dalam QS Al Baqarah ayat 6, Allah menyebutkan kondisi ini

” Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak, mereka tidak akan beriman.”

Ayat ini bukan tentang menyerah, Ini tentang sesuatu yang jauh lebih penting, kita dituntut memahami bahwa ada hal-hal di luar jangkauan kita.

Allah sendiri yang menyebut, ada orang yang sudahpun diberi peringatan berkali-kali, kondisinya tetap sama. Bukan karena nasihatnya yang kurang keras. Bukan pula karena kamu kurang usaha.

Dalam QS Al Baqarah Ayat 7 disebutksn tiga hal : hati; pendengaran dan penglihatan, ini bukan sekedar daftar, ini sistem.

“Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka tertutup, dan mereka akan mendapat azab yang berat.”

Tafsir Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di ( 1307 H) menjelaskan bahwa ketiganya adalah ” pintu-pintu ilmu dan kebaikan.”, dijelaskan secara rinci sebagai berikut :

  • Hati: Dikunci atau dimeteraikan oleh Allah karena kekafiran dan penolakan keras mereka terhadap kebenaran yang terus-menerus dilakukan. Akibatnya, hati mereka tidak lagi mampu memahami petunjuk. 
  • Pendengaran : Telinga mereka tertutup dari menerima nasihat kebaikan
  • Penglihatan: mata mereka tertutup dari melihat tanda-tanda kebesaran Allah.

Ketika ketiganya tertutup, seseorang tidak bisa lagi disentuh oleh nasihat dari arah manapun, bukan karena nasihatnya yang buruk, tapi karena pintunya memang sudah tidak terbuka. Dan kamu tidak punya kunci itu.

Ternyata ada empat tahapan hati bisa “tertutup” dalam bahasa Arab dan ini bukan hal kecil.

Mujahid bin Jabir (hidup 21–104 H/642–722 M) , salah satu ulama tafsir generasi tabi’in, menjelaskan bahwa kondisi hati yang menolak kebenaran itu tidak langsung terkunci selamanya.

Berikut adalah ringkasan pandangan beliau mengenai tahapan penolakan hingga tertutupnya hati:
  • Tahap Dosa (Ar-Ra’n): Menurut penjelasan Mujahid, penolakan awal terhadap kebenaran disebabkan oleh akumulasi dosa yang terus dilakukan. Dosa-dosa ini diibaratkan seperti noda yang menutupi hati lapis demi lapis. 
  • Proses Bertahap: Dalam menggambarkan penutupan hati (khatam), Mujahid meragakan proses melipat jari tangan satu per satu ke telapak tangan. Hal ini menunjukkan bahwa penolakan kebenaran dan penguncian hati terjadi secara bertahap.
  • Peluang Tobat: Selama proses pelipatan atau penutupan tersebut belum sempurna, hati manusia pada hakikatnya masih terbuka untuk menerima kebenaran dan bertaubat. Hati tidak serta-merta terkunci mati selamanya dalam satu waktu.
  • Titik Akhir (At-Tab’u): Hati baru akan terkunci mati dan tertutup rapat (at-tab’u) apabila dosa-dosa telah sepenuhnya meliputi hati tersebut dari segala sisi. Jika sudah sampai pada titik ini, kebenaran menjadi sangat sulit diterima

Artinya, ini adalah proses. Hati yang keras bukan sesuatu yang tiba-tiba terjadi, Ia terbentuk perlahan, dari keputusan-keputusan yang terus dipilih ulang.

Ini pertanyaan yang sering bikin bingung : kalau Allah yang mengunci, lalu salah siapa?

Ibnu Jarir ath-Thobari ( 224 – 308 H /839-923 M), menjelaskan bahwa penguncian itu bukan tindakan Allah yang semena-mena. Ini adalah konsekwensi dari pilihan mereka sendiri. Dosa yang terus dipilih, kebenaran yang terus ditolak, pelan-pelan mebuat hati makin tidak responsif, lalu pada titik tertentu, Allah mengukuhkan kondisi itu.

Qur’an tidak pernah meminta kita menjadi pemilik hidayah orang lain

Kalau Rasulullah saja tidak dibebani memastikan semua orang berubah, kenapa kita menghukum diri sendiri karena gagal mengubah satu orang?

(disarikan dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *